Selasa, 23 Okt 2018 10:49 WIB

Ke Mana Penganut Bumi Datar Kala Antartika 'Bernyanyi'?

Muhamad Imron Rosyadi - detikInet
Ross Ice Shelf di Antartika ternyata memiliki kemampuan untuk menyanyikan lagu-lagu sendu. Foto: National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) Ross Ice Shelf di Antartika ternyata memiliki kemampuan untuk 'menyanyikan' lagu-lagu sendu. Foto: National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA)
Jakarta - Kurang lebih satu bulan yang lalu, sebuah kelompok yang beranggotakan para penganut Bumi datar mengumumkan bahwa pihaknya akan melakukan pencarian tepian Planet Biru ini di Antartika. Misi yang mereka lakukan itu dinamai Project Edge.

Pada saat itu, mereka berencana untuk melakukannya sekitar akhir September atau awal Oktober. Kelompok tersebut pun sempat melakukan pengumuman bahwa pihaknya membutuhkan relawan untuk misinya itu.


Sayangnya, belum ada informasi lebih lanjut mengenai kelanjutan Project Edge tersebut. Padahal, jika memang jadi berangkat ke sana, mereka bisa menikmati fenomena alam unik di Antartika.

Sebuah tim peneliti menemukan fakta bahwa Ross Ice Shelf, salah satu paparan es di Antartika, mempunyai kemampuan untuk 'bernyanyi'. Lantas, bagaimana bongkahan es raksasa bisa mengeluarkan suara tanpa adanya mulut?

Jawabannya adalah angin yang mengalami pergesekan dengan gundukan es sehingga menciptakan gelombang getar. Hal tersebut membuat nada seismik yang hampir terjadi secara non-stop. Suaranya, sebagaimana diklaim kelompok peneliti itu, mirip dengan lagu bernada sedih.

Walau begitu, 'musik' tersebut tidak serta merta bisa didengarkan oleh manusia secara langsung. Hal tersebut karena frekuensinya yang tidak bisa ditangkap oleh telinga orang. Mereka pun mendengarnya menggunakan sensor seismik.

Sekadar informasi, tim peneliti ini ternyata merekam gelombang tersebut selama dua tahun. Hasilnya, dari rekaman tersebut, mereka menemukan bahwa paparan es tersebut hampir secara konsisten 'bernyanyi' pada frekuensi 5 hertz.

Selain itu, 'lagunya' juga berubah tergantung kondisi, misalnya ada badai salju. Menariknya, sejatinya tim peneliti ini tidak berniat sedari awal dalam mendeteksi getaran tersebut.


Pada 2014 sampai 2017, mereka memasang 34 sensor seismik pada Ross Ice Shelf untuk mengawasi perilaku dari paparan es tersebut. Lalu, begitu mereka mengevaluasinya, tim peneliti ini menyadari adanya getaran dari lapisan paling atas dari es akibat gesekan angin.

Harapannya adalah, dengan memonitor 'lagu' ini, mereka bisa mendeteksi pergerakan dari lapisan es dari jauh dan real time. Hal tersebut bisa membantu dalam memberikan peringatan dini jika ada lapisan yang rawan untuk runtuh, sebagaimana detikINET kutip dari Live Science, Selasa (23/20/2018).




Tonton juga 'Apa yang Terjadi Kalau Bumi Datar?':

[Gambas:Video 20detik]

(mon/rns)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed