Selasa, 03 Jul 2018 23:18 WIB

Rencana Presiden Asgardia untuk Masa Depan Manusia

Muhamad Imron Rosyadi - detikInet
Ilustrasi Asgardia. Foto: istimewa Ilustrasi Asgardia. Foto: istimewa
Jakarta - Igor Ashurbeyli, pria yang ditunjuk sebagai presiden pertama dari Asgardia, membeberkan rencananya dalam memimpin proyek negara langit tersebut. Ia menyebutkan bahwa Asgardia diciptakan untuk membuat sebuah peradaban baru yang diselimuti kedamaian.

"Berbagai macam konflik internasional yang kita lihat sudah sangat kuat, ibarat air mendidih di dalam pot, sehingga satu-satunya jalan untuk lepas adalah dengan ke luar angkasa. Dunia pun tampaknya hanya akan terus menimbulkan masalah, dan sepertinya tidak akan bisa dipecahkan di Bumi," ujarnya.

"Jadi, kalian butuh pergi ke tempat lain. Kalian butuh tempat untuk melepaskan diri dari ini semua. Saya pikir ide ini telah mendapat momennya yang sesuai karena banyak orang, walau tanpa mereka sadari, yang sudah membuka pikiran mereka lebih luas untuk menyelesaikan masalah (di Bumi)," katanya menambahkan.

Untuk mewujudkan negara yang damai di luar angkasa sana, Ashurbeyli tampaknya akan butuh uang dalam jumlah banyak. Salah satunya adalah untuk membawa muatan yang dibutuhkan dalam membangun negara di antariksa. Jika menengok SpaceX, perusahaan yang didirikan oleh Elon Musk tersebut mematok USD 65 juta (Rp 938 miliar) untuk sekali penerbangan roket Falcon 9 miliknya.

Terkait dengan hal tersebut, pria berdarah campuran Rusia dan Azerbaijan ini mengaku dirinya tidak dapat bekerja sendirian. Menurutnya, ia hanya berperan sebagai pemicu, bukan pelaksana.

"Tugas saya di sini ibarat sebuah mekanisme untuk menyalakan mesin, dan mesin itu diharapkan mampu berjalan dengan sendirinya," ucapnya, sebagaimana detikINET kutip dari Daily Beast, Selasa (3/7/2018).


Ashurbeyli sendiri disebut cukup royal jika berbicara mengenai perkembangan Asgardia. Adalah salah satu anggota parlemen Asgardia, Christian dari Austria, yang menyebutkan bahwa sang presiden memang banyak menggelontorkan uangnya untuk mendanai Asgardia. Pernyataan tersebut juga diamini oleh anggota parlemen yang lain, yaitu Jan asal Jerman.

Jika melihat latar belakangnya yang terlahir dari keluarga kaya di Baku, Azerbaijan, wajar saja pria berusia 54 tahun itu tampak tak segan untuk merogoh koceknya demi Asgardia. Tidak hanya itu, ia juga memiliki perusahaan bernama Socium Holding yang didirikannya pada 1988. Jabatan sebagai CEO Almaz-Antey, kontraktor pertahanan terbesar di Rusia, pun sudah pernah diembannya.

Meski begitu, pihak parlemen dari Asgardia telah berencana untuk membuat rancangan anggaran untuk 2019, yang diharapkan mampu diumumkan pada tahun ini. Nantinya, di dalam rancangan tersebut akan tercantum wilayah mana saja yang dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan pemasukan.

Satu wilayah yang tampaknya akan dimaksimalkan oleh Asgardia adalah dengan memanfaatkan tiga entitas yang mereka daftarkan di Wina, Austria. Ketiganya adalah Asgardia NGO, Asgardia International Research Center, dan Asgardia AG.

Selain itu, Ashurbeyli juga sempat menyebutkan bahwa dirinya memiliki ide untuk meluncurkan sejumlah satelit yang mampu mengirim akses internet ke masyarakat Asgardia di Bumi. Layanan ini pun tentunya akan melibatkan berbagai pihak, salah satunya perusahaan telekomunikasi.

Menarik untuk ditunggu bagaimana Ashurbeyli akan memimpin proyek negara luar angkasa ini menuju kenyataan. Atau, ia malah tak mampu membawa 'rakyatnya' untuk kabur dari Bumi yang dianggapnya sudah terlalu banyak masalah.

(mon/rou)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed