Senin, 25 Jun 2018 20:10 WIB

Strategi NASA Lindungi Bumi dari Asteroid

Muhamad Imron Rosyadi - detikInet
Ilustrasi asteroid. Foto: NASA Ilustrasi asteroid. Foto: NASA
Jakarta - Badan antariksa Amerika Serikat, NASA, bekerja sama dengan Office of Science and Technology Policy (OSTP), departemen yang mengurusi sains dan teknologi di Negeri Paman Sam tersebut, mengumumkan caranya untuk melindungi Bumi dari jatuhnya asteroid. Cara tersebut tercantum dalam laporan berjudul National Near-Earth Object Preparedness Strategy and Action Plan.

Rencana tersebut meliputi meningkatkan deteksi Near-Earth Object (NEO) dan mengembangkan kemampuan dalam memprediksi kapan dan di mana objek tersebut dapat menimbulkan dampak di Bumi. Tak ketinggalan, rencana ini juga menyertakan pengembangan teknologi yang sanggup membelokkan atau mengganggu objek besar masuk ke orbit Bumi.

Sejumlah teknologi yang sudah disiapkan oleh NASA untuk melawan NEO meliputi dua kendaraan luar angkasa bernama kinetic impactors dan gravity tractors. Nama pertama berfungsi untuk menghalangi objek tersebut yang hendak masuk ke orbit Bumi.

Sedangkan satunya memiliki kemampuan untuk terbang dengan jarak dekat terhadap NEO agar orbitnya dapat diperbaiki dalam kurun waktu tertentu. Sebagai tambahan, NASA juga tengah menggodok untuk menggunakan senjata nuklir untuk menghancurkan asteroid. Wacana itu sendiri sudah muncul sejak 2010 lalu.

Dalam mendukung rencana tersebut, NASA pun optimis bahwa pihaknya sudah melacak dan mengelompokkan bermacam asteroid dan objek antariksa lain yang berpotensi bertabrakan dengan Bumi. Meski begitu, bukan berarti planet yang dihuni manusia ini menjadi 100% aman.

"Terdapat lebih dari 300.000 objek dengan ukuran lebih dari 40 meter yang berpotensi menimbulkan bahaya dan akan sangat sulit untuk dideteksi dalam waktu dekat," tulis NASA dalam laporannya, sebagaimana detikINET kutip dari Cnet, Senin (25/6/2018).


Fakta tersebut, sebagaimana diakui oleh badan antariksa tersebut, menjadi salah satu alasan dibuatnya strategi untuk melindungi Bumi. Terkait dengan hal itu, NASA pun akan terus mengembangkan kemampuannya dalam mendeteksi, melacak, dan mengobservasi karakteristik dari berbagai NEO.

Dengan begitu, mereka berharap dapat memberikan pemahaman yang lebih baik terhadap asteroid dengan ukuran 50 hingga 140 meter. Selain itu, kemampuan analisis terhadap efek yang dapat ditimbulkan objek tersebut jika sewaktu-waktu menghantam Bumi pun diharapkan juga dapat meningkat.

Untungnya, walaupun terdapat ratusan ribu objek berukuran lebih dari 40 meter yang berpotensi menimbulkan bahaya, NASA mengklaim bahwa pihaknya sudah mengidentifikasi 95% asteroid berukuran besar yang dapat menimbulkan bencana dalam skala global. Hal tersebut diungkapkan oleh Aaron Miles, salah satu petugas dari OSTP.

Fenomena Jatuhnya Asteroid

Bumi diketahui memang kerap menjadi sasaran bagi sejumlah asteroid. Belum lama ini, asteroid bernama 2018 LA dengan panjang diameter sekitar dua meter tampak jatuh di langit Afrika Selatan. Fenomena itu terlihat dari sebuah rekaman webcam.

Dalam video tersebut, asteroid itu tampak seperti bola api yang jatuh hingga ke tanah. Meski begitu, benda langit tersebut sudah terbakar habis di atmosfer, sebagaimana dikonfirmasi oleh pihak badan antariksa Amerika Serikat, NASA. Mereka menambahkan bahwa 2018 LA terbakar habis dengan jarak beberapa kilometer di atas permukaan tanah.



Tidak hanya Afrika Selatan, langit China pun juga kehadiran objek dari luar angkasa. Provinsi Yunnan menjadi lokasi jatuhnya bola api yang diyakini sebagai meteor sebagaimana diungkapkan oleh Yunnan Observatory of the Chinese Academy of Sciences.

Zhang Xingxiang, spesialis pengamat astronomi, menjelaskan bahwa penampakkan seperti bola api tersebut tercipta akibat gesekan yang sangat kuat ketika meteor memasuki atmosfer Bumi.



Meteor sendiri merupakan meteorid yang berhasil menembus atmosfer Bumi. Sedangkan meteorid adalah pecahan dari asteroid.

Lalu, salah satu yang terbaru, di Rusia, tepatnya di Lipetsk, terjadi ledakan meteor yang memiliki kekuatan di kisaran 2,8 kiloton. Angka tersebut membuat kejadian di Lipetsk ini menjadi ledakan meteor terbesar pada 2018.



Dalam laporannya yang menjelaskan strategi untuk melindungi Bumi, NASA pun menyebutkan bahayanya kala asteroid benar-benar jatuh ke Planet Biru tersebut. Kejadian yang disebut badan antariksa ini adalah saat sebuah asteroid berukuran sekitar 40 hingga 60 meter jatuh di Yeniseysk, Rusia, pada 1908 dan menyebabkan 2.000 kilometer persegi dari kawasan hutan rata dengan tanah.

(mon/rou)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed