Senin, 02 Apr 2018 13:24 WIB

Komentar China Soal Jatuhnya Stasiun Luar Angkasa Tiangong-1

Agus Tri Haryanto - detikInet
Ilustrasi pecahan stasiun luar angkasa Tiangong-1. Foto: Aerospace Corp. Ilustrasi pecahan stasiun luar angkasa Tiangong-1. Foto: Aerospace Corp.
Jakarta - Saat Tiangong-1 kembali ke atmosfer Bumi dan jatuh di wilayah Samudera Pasifik bagian selatan, Senin pagi ini (2/4/2018), China menyampaikan salam perpisahan kepada laboratorium eksperimental antariksa miliknya itu.

Tiangong-1 sendiri merupakan stasiun luar angkasa pertama buatan China yang diluncurkan pada 29 September 2011. China menilai bahwa Tiangong-1 adalah pelopor stasiun luar angkasa masa depan bagi Negeri Tirai Bambu.

Wahana antariksa ini beroperasi selama kurang lebih empat tahun setengah mengorbit di ketinggian 350 kilometer dari permukaan Bumi.

Selain itu, Tiangong-1 ini memberikan kontribusi penting terhadap asal-muasal misi berawak China, sehingga membuka jalan untuk menjadi negara ketiga yang membangun permanen stasiun luar angkasa pada 2022.

Huang Weifen, Deputy Chief Designer of the Astronout Center of China, mengatakan peran penting Tiangong-1 terukir dalam sejarah antariksa China.

"Itu telah membantu kami mengumpulkan pengalaman berharga dalam membangun stasiun luar angkasa," sebutnya seperti dikutip detikINET dari Xinhua, Senin (2/4/2018).

[Gambas:Video 20detik]




"Meskipun Tiangong-1 hanyalah sebuah platform transisi antara pesawat antariksa dengan stasiun luar angkasa,itu adalah kunci bagi China untuk memperoleh teknologi docking pesawat antariksa. Dan, itu menunjukkan kemungkinan tempat tinggal lama untuk orang China," tutur Bai Ruixue, mantan jurnalis dan CEO di perusahaan yang fokus tentang antariksa.

Bai menuturkan bahwa ketika melaporkan proses docking antara Shenzou-8 dan Tiangong-1 di Beijing Aerospace Control Center pada November 2011, banyak orang yang meneteskan air mata ketika dua wahana antariksa tersebut.

"Seperti dua butir debu yang mengambang di alam semesta yang luas, terhubung satu sama lain merupakan kisah cinta yang ekstrem, yang diciptakan oleh sains dan teknologi," kata Bai.

Diketahui, pertama kali diluncurkan pada 29 September 2011, stasiun luar angkasa pertama Negeri Tirai Bambu tersebut mengorbit di ketinggian 350 kilometer.

Ketika itu, Tiangong-1 merupakan muatan dari Long March 2F yang diluncurkan di Jiuquan Satellite Launch Center, China.



Stasiun luar angkasa berbentuk tabung dengan panjang 10,4 meter berdiameter 3,4 meter dan dilengkapi bentengan panel surya di kedua sisinya ini, pernah ditempati para penjelajah antariksa dari China.

Namun sejak 2016, Tiangong-1 sudah tidak dapat dikontrol lagi dan mulai turun orbitnya. Stasiun luar angkasa China itu berpotensi jatuh ke Bumi di wilayah pada rentang 43 derajat lintang utara sampai 43 derajat lintang selatan, termasuk Indonesia di dalamnya. (agt/rou)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed