Jumat, 30 Mar 2018 22:30 WIB

Jatuhnya Stasiun Antariksa China ke Bumi Mulai Melambat

Agus Tri Haryanto - detikInet
Foto: Ilustrasi Stasiun Luar Angkasa Tiangong 1 (Futurism) Foto: Ilustrasi Stasiun Luar Angkasa Tiangong 1 (Futurism)
Jakarta - Stasiun antariksa China Tiangong-1 yang dinyatakan sudah tidak bisa dikendalikan akan jatuh ke Bumi dalam beberapa hari ke depan. Namun, saat ini stasiun luar angkasa seberat 8,5 ton itu dilaporkan mengalami pelambatan penurunan orbitnya.

Tiangong-1 saat pertama kali diluncurkan pada 29 September 2011, mengorbit di ketinggian 350 kilometer dari permukaan Bumi. Tetapi, sejak mulai tak bisa dikontrol lagi oleh otoritas China pada 2016, Tiangong-1 terus mengalami penurunan orbitnya.

Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) mengatakan, bahwa kemarin Tiangong-1 terpantau berada di ketinggian 187 kilometer, di mana itu turun sekitar tiga kilometer.


Sebelumnya, saat berada di ketinggian 200 kilometer, lembaga pemerintah non kementerian ini mengatakan Tiangong-1 berpeluang jatuh menghantam Bumi pada 1 April. Namun karena penurunan orbit melambat, waktu jatuhnya pun bergeser.

"Perkiraan jatuh (memasuki ketinggian 120 kilometer) sedikit bergeser menjadi 1-3 April," ujar Kepala Bagian Hubungan Masyarakat LAPAN Jasyanto saat dihubungi detikINET, Jumat (30/3/2018).

Jasyanto mengatakan penurunan orbit Tiangong-1 yang melambat ini bisa dari berbagai faktor, mulai dari kondisi angin, cuaca, sampai benda tersebut bertabrakan dengan benda lainnya sehingga kecepatannya berkurang.

"Jadi, banyak variabelnya kenapa Tiangong-1 mengalami penurunan orbitnya yang melambat," kata dia.


Ketidakpastian akan terus berlanjut sampai wahana antariksa tersebut memasuki ketinggian 120 kilometer. Di sana akan diketahui kapan dan di mana, Tiangong-1 akan menghantam Bumi.

"LAPAN akan terus memantau perkembangan Tiangong-1 ini," sebutnya.

(agt/asj)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed