Minggu, 18 Mar 2018 12:22 WIB

Di Mana Stasiun Antariksa China Bakal Menghantam Bumi?

Agus Tri Haryanto - detikInet
Foto: Ilustrasi Stasiun Luar Angkasa Tiangong 1 (Futurism) Foto: Ilustrasi Stasiun Luar Angkasa Tiangong 1 (Futurism)
Jakarta - Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) menyebutkan stasiun antariksa China Tiangong-1 akan masuk ke atmosfer Bumi dan berpeluang jatuh di wilayah Indonesia. Lalu, di mana benda antariksa tersebut akan mendarat?

Untuk saat ini, menurut Kepala LAPAN Thomas Djamaluddin, LAPAN sendiri belum mengetahui detail di mana posisi tepatnya Tiangong-1 akan jatuh. Tidak bisa dipastikannya ini karena faktor hambatan atmosfer belum bisa dihitung secara akurat.

"Karena inklinasi (kemiringan bidang orbit) Tiangong-1 42,8 derajat, maka wilayah yang berpotensi kejatuhan pecahannya adalah wilayah di bumi antara 43 derajat lintang utara sampai 43 derajat lintang selatan," ucap Thomas

Lebih lanjut, Thomas mengatakan kecepatan jatuh objek antariksa bergantung pada kerapatan atmosfer. Sementara, kerapatan atmosfer dipengaruhi oleh aktivitas Matahari dan medan magnet Bumi. Variasi aktivitas Matahari yang menyebabkan rentang ketidakpastian waktu jatuhnya cukup besar.

"Tingkat akurasinya akan bertambah dengan makin dekatnya waktu jatuh. Sampai dengan pertengahan Maret, prakiraan waktu jatuh sekitar April, dengan ketidakpastian +/- 7 hari," sebutnya.

Tiangong-1 yang merupakan stasiun luar angkasa milik Negeri Tirai Bambu ini pertama kali diluncurkan pada 29 September 2011 dari Jiuquan Satellite Launch Center, China. Saat masa beroperasionalnya, Tiangong-1 memberikan kontribusi kepada penelitian antariksa bagi China.

Wahana berbobot 8,5 ton berbentuk tabung dengan panjang 10,4 meter berdimeter 3,4 meter, dilengkapi dengan bentangan panel surya ini pernah ditempati oleh astronot China. Ketika itu, Tiangong-1 mengorbit di atas ketinggian 350 kilometer dari permukaan Bumi.

Namun, otoritas antariksa China melaporkan bahwa Tiangong-1 mengalami kerusakan dan tidak dapat dikontrol lagi sejak 16 Maret 2016. Stasiun antariksa ini akan mengalami fase re-entry atau masuk kembali ke atmosfer Bumi. Dan diperkirakan sekitar April 2018, Tiangong-1 akan menghantam Bumi.

Thomas menuturkan akibat hambatan atmosfer, Tiangong-1 akan mengalami penurunan ketinggian. Dari semula di ketinggian 350 kilometer, pada pertengahan Maret ketinggiannya sudah mencapai 250 kilometer.

"Semakin mendekati Bumi, atmosfernya makin padat sehingga laju penurunan akan semakin cepat. Bila ketinggiannya telah mencapai sekitar 120 kilometer, wahana itu sudah dianggap jatuh. Pada ketinggian 120 km tersebut, atmosfer cukup padat untuk membakar dan memecahkan objek tersebut. Hanya dalam hitungan menit, pecahannya akan jatuh di sepanjang jalurnya," papar Thomas dikutip oleh detikINET di laman blog pribadinya, Minggu (18/3/2018).

[Gambas:Video 20detik]

(agt/asj)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed