Jumat, 09 Feb 2018 09:15 WIB

Roket Elon Musk Bikin Rusia 'Panas'

Muhamad Imron Rosyadi - detikInet
Peluncuran Falcon Heavy. Foto: Reuters Peluncuran Falcon Heavy. Foto: Reuters
Jakarta - Usaha Elon Musk menerbangkan roket yang dapat digunakan kembali sejatinya sudah pernah dicoba Rusia yang saat itu masih bernama Uni Soviet, lebih dari 50 tahun lalu.

Lebih dari setengah abad silam, Uni Soviet memiliki rencana ambisius yang dibebankan oleh badan antariksanya, yaitu menerbangkan roket yang dapat digunakan kembali dengan 30 mesin di dalamnya.

Sergei Korolev, seorang desainer dari roket yang digunakan untuk peluncuran satelit perdana (Sputnik 1) serta pengiriman orang pertama ke luar angkasa (Yuri Gagarin), dipercaya untuk memimpin proyek tersebut.

Pengembangan awal roket yang di kemudian hari dikenal dengan nama N1 ini dimulai pada 1959. Roket tersebut diproyeksikan memiliki kekuatan untuk mengangkut muatan hingga 75 ton menuju orbit, dan diharapkan mampu lebih jauh lagi, seperti ke Bulan, Mars, serta Venus.



Karena kekurangan biaya, N1 baru bisa dikembangkan kembali secara serius pada Oktober 1965, hampir empat tahun lebih lama dari pesaingnya, yaitu Saturn V milik Amerika Serikat.

Meskipun ditinggal oleh Korolev yang meninggal pada 1966, N1 mampu melaksanakan uji coba peluncuran perdananya pada 1969. Sayangnya, uji coba peluncuran tersebut menemui kegagalan.

Malangnya, meskipun mampu menggelar tes peluncuran hingga tiga kali setelahnya, tak satupun dari uji coba tersebut yang mencapai kata berhasil.

Salah satu alasan utamanya adalah kesulitan dalam menjalankan begitu banyak mesin dalam waktu yang bersamaan.

Mirisnya lagi bagi Uni Soviet, Amerika Serikat justru berhasil menerbangkan Saturn V, sekaligus mendapat predikat sebagai roket terkuat sepanjang masa.

Keberhasilan Elon Musk dan SpaceX dalam menerbangkan Falcon Heavy yang memiliki 27 roket, kekuatan mengangkut hingga 64 ton muatan ke orbit, serta kemampuan untuk kembali lagi ke Bumi, semakin membuat Rusia kini gigit jari.

Roket Elon Musk Bikin Rusia 'Panas'Mesin pendorong Falcon Heavy balik ke Bumi. Foto: Reuters


Menariknya, mereka seakan 'panas' dan tidak terima dengan 'kekalahan' ini. Vitaly Egorov, juru bicara dari Dauria Aerospace, manufaktur satelit yang bekerja sama dengan Roskosmos, badan antariksa Rusia, menulis sebuah unggahan di Facebook menanggapi kesuksesan meluncurnya Falcon Heavy.

"Pada dasarnya, Elon Musk tidak melakukan hal yang fantastis sama sekali. Para desainer roket seperti Sergei Korolev dan Valentin Glushko sudah pernah melakukan hal semacam ini," tulisnya, seperti detikINET kutip dari Bloomberg, Jumat(9/2/2018).

"Jika Uni Soviet sudah melakukannya, maka Rusia pun pasti bisa. Secara teknis, kami bisa mengulang sukses SpaceX. Pada akhirnya, membuat roket kelas berat adalah persoalan matematika, dan kami tidak kekurangan ahli di bidang tersebut," ia menambahkan.



Terkait dengan hal tersebut, Rusia pun sudah memiliki rencana membangun roket sejenis Falcon Heavy yang dapat terbang ke Bulan atau Mars.

Sayangnya, rencana tersebut tampaknya kekurangan dana, mengingat proyek yang diusung sejak 2017 ini baru akan menjalani uji coba peluncuran perdananya pada 2028, sebagaimana disebutkan oleh Igor Kamarov, Kepala Roskosmos.

[Gambas:Video 20detik]

(rns/rns)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed