BERITA TERBARU
Senin, 29 Jan 2018 11:48 WIB

Super Blue Blood Moon, Senjata Lawan Teori Bumi Datar

Muhamad Imron Rosyadi - detikInet
Foto: Dok Foto: Dok
Jakarta - Fenomena Super Blue Blood Moon tak hanya langka, tetapi juga menyajikan fakta-fakta menarik mengenai Bumi dan hal di sekitarnya.

Dua hari lagi, gabungan penampakan gerhana Bulan total, Supermoon, dan Blue Moon akan hadir, Rabu (31/1/2018). Seluruh Indonesia, kebagian melihat penampakan menakjubkan tersebut.

Sejumlah pengetahuan menarik mengenai Bumi dan objek-objek di sekitarnya pun sudah disiapkan oleh fenomena yang kembali muncul setelah kurang lebih 152 tahun lamanya ini.

Pengetahuan tersebut, bisa dinikmati seluruh kalangan, baik yang masih duduk di bangku Taman Kanak-kanak hingga orang dewasa. Salah satu hal penting yang dapat dipelajari dari fenomena Super Blue Blood Moon adalah bentuk Bumi yang bulat.

Saat mengangkat tangan ke arah Matahari, bayangan yang dihasilkan adalah bentuk dari bagian tubuh itu sendiri. Begitupun dengan Bumi saat gerhana Bulan tengah berlangsung. Pada momen tersebut, bayangan Bumi akan memunculkan bentuk dari Planet Biru tersebut.

Saat bayangannya bergerak melintasi Bulan, maka bentuk yang muncul adalah bulat, bukan pipih seperti yang disebutkan teori konspirasi Bumi datar. Hal ini berlaku untuk setiap gerhana Bulan, bukan hanya pada saat Super Blue Blood Moon saja.

Lalu, seperti detikINET kutip dari Space.com, Senin (29/1/2018), setelah berhasil mematahkan argumen para penganut paham Bumi datar, hal menarik yang patut disimak berikutnya adalah goyangan Bumi.

Satu-satunya planet yang diketahui dapat dihuni makhluk hidup ini akan seperti bergoyang ketika berputar pada porosnya, atau dikenal juga dengan rotasi Bumi.

Pada saat itu, Bumi akan mengalami presesi (perubahan orientasi terhadap sumbu dari benda yang berputar) dan akan menyelesaikan satu siklusnya, atau kembali ke posisi serupa, setiap 26.000 tahun.

Adalah ahli astronomi asal Yunani bernama Hipparchus yang pertama kali menyadari goyangan Bumi. Untuk mengetahuinya, ia membandingkan posisi sejumlah bintang yang terlihat selama gerhana Bulan berlangsung dengan Matahari.

Kemudian, ilmuwan yang juga menggeluti bidang geografi dan matematika ini akan membandingkan hal tersebut dengan data terkait yang sudah tersimpan ratusan tahun sebelumnya.

Setelah itu, dapat diketahui bahwa bintang kutub pada saat itu adalah Thuban karena posisinya yang paling dekat terhadap kutub utara Bumi.

Lalu, titel tersebut sempat jatuh ke tangan Vega, sebelum akhirnya Polaris yang merupakan bintang paling terang di rasi Ursa Minor menjadi bintang kutub bagi Bumi.

Sama halnya dengan pembuktian bahwa Bumi itu bulat, pantauan bintang-bintang ini pun juga bisa disaksikan saat gerhana Bulan biasa.

Meskipun begitu, patut disimak bagaimana pantauan terhadap kedua hal tersebut ketika dilakukan saat momen Super Blue Blood Moon, mengingat ini adalah gerhana spesial sekaligus langka.


Jangan lewatkan momen langka ini dengan mengirimkan informasi seputar fenomena Super Blue Blood Moon di sekitar kalian ke pasangmata.com. (rns/rns)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed