Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Review Motorola Razr Fold: Kamera Serius, Baterai Jumbo

Review Motorola Razr Fold: Kamera Serius, Baterai Jumbo


Enche Tjin - detikInet

Motorola Razr Fold
Review Motorola Razr Fold: Kamera Serius, Baterai Jumbo Foto: Enche Tjin
Jakarta -

Di tengah pasar ponsel premium yang semakin seragam, Motorola Razr Fold hadir sebagai kejutan yang cukup menyenangkan. Motorola memang punya sejarah panjang dengan ponsel lipat, terutama lewat era flip phone yang ringkas. Tetapi kehadiran model foldable berformat buku di Indonesia tetap terasa sebagai langkah berani.

Ini bukan sekadar nostalgia yang dibungkus teknologi baru, melainkan upaya Motorola untuk menantang pemain-pemain besar di kategori yang selama ini cukup eksklusif.

Untuk produk generasi pertamanya, Razr Fold datang dengan spek yang ambisius dan sulit diabaikan. Baterai 6.000 mAh, pengisian daya kabel 80 watt, dan pengisian nirkabel 50 watt. Kapasitas baterai yang besar ini menunjukkan bahwa Motorola tidak ingin kompromi pada aspek yang paling sering menjadi kelemahan ponsel lipat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

ADVERTISEMENT

Layar dalamnya sangat luas, 8,1 inch dengan tingkat kecerahan hingga 6.200 nits yang cukup terang untuk dipakai di berbagai kondisi cahaya. Saat dibuka, Razr Fold menjadi seperti tablet mini, praktis untuk bekerja, membaca, mengedit, maupun menikmati konten dengan nyaman.

Motorola Razr FoldFoto: Enche Tjin

Di balik layarnya, Snapdragon 8 Gen 5, RAM 12 GB, dan penyimpanan 256 GB memberikan jaminan performa yang memadai. Di bagian belakang ponsel terdapat 3 kamera yang salah satunya periskop telefoto. Motorola tampak berusaha membuat satu perangkat yang mampu memenuhi hampir semua kebutuhan: produktivitas, komunikasi, hiburan, hingga fotografi.

Konsekuensinya, bodinya menjadi cukup berat yakni 243 gram dan tebal hampir 1 cm ketika dilipat. Tonjolan modul kamera sekitar setengah sentimeter juga membuat profilnya terasa semakin tebal.

Motorola Razr FoldFoto: Enche Tjin

Memang, ukuran dan bobot tersebut bukan hal yang aneh untuk ponsel lipat. Namun, ketika perangkat premium ditujukan untuk dipakai sepanjang hari, kenyamanan fisik tetap menjadi bagian penting dari pengalaman.

Razr Fold terasa seperti perangkat yang sangat ingin unggul segalanya dalam fitur dan spek, tetapi masih menyisakan pekerjaan rumah dalam soal desain. Generasi berikutnya seharusnya bisa mencari keseimbangan yang lebih baik antara kelengkapan fitur dan kepraktisan sehari-hari.

Di sisi lain, Motorola patut diapresiasi karena tidak setengah hati menggarap kamera. Tiga kamera 50 MP ultrawide, wide, dan telefoto memberikan fleksibilitas yang masih relatif langka di dunia ponsel foldable.

Motorola Razr FoldFoto: Enche Tjin

Kamera utama memakai sensor Sony Lytia 50 MP berukuran 1/1,28 inch dengan bukaan f/1.6, stabilisasi gambar, serta autofokus phase detection. Di atas kertas, kombinasi ini sudah cukup menjanjikan untuk kebutuhan fotografi yang lebih serius.

Lensa telefoto periskop 3x atau ~71 mm menjadi nilai tambah yang penting. Dengan stabilisasi gambar dan digital zoom hingga 100x berbantuan AI, Razr Fold menawarkan opsi yang jarang benar-benar diperhatikan di kelas ponsel lipat. Kehadiran telefoto yang layak bukan hanya soal mendekatkan subjek, tetapi juga membuka kemungkinan komposisi yang berbeda.

Lensa ultrawide 12 mm ekuivalen dengan sudut pandang 122 derajat turut melengkapi paketnya. Sensor 1/2,76 inch memang bukan yang terbesar, tetapi bukaan f/2 dan sudut pandangnya yang sangat lebar membuat lensa ini tetap terasa berguna, terutama untuk arsitektur, lanskap, atau ruang sempit.

Pada titik ini, Razr Fold tampak memahami bahwa pengguna ponsel premium tidak selalu mencari satu kamera terbaik, melainkan sistem kamera yang cukup luwes untuk berbagai situasi.

Motorola Razr FoldFoto: Enche Tjin

Karakter warna hasil fotonya juga punya tone yang sinematik. Dari pengalaman saya, Motorola cenderung menghasilkan nuansa yang lebih dingin, warna biru sedikit mengarah ke hijau, sementara pilihan filter banyak menawarkan sentuhan cool tone dan nostalgia.

Selera tentu sangat subjektif, tetapi setidaknya Motorola tidak memberikan hasil yang terasa generik. Bagi sebagian pengguna, karakter ini bisa menjadi daya tarik tersendiri. Saya mencoba Razr Fold di Lavela Greenlake City, area belanja outdoor dengan nuansa Eropa, menggunakan filter seperti Nordic Vibrant dan Tokyo Natural.

Dalam kondisi sore yang cerah, foto terlihat tajam dan detail. Saat cahaya mulai menurun menjelang senja, hasilnya juga masih cukup meyakinkan. Ini memberi kesan bahwa sistem kameranya tidak hanya menjual angka resolusi, tetapi mampu menjaga kualitas di kondisi yang lebih menantang.

Motorola Razr FoldFoto: Enche Tjin
Motorola Razr FoldFoto: Enche Tjin
Motorola Razr FoldFoto: Enche Tjin

Mode portrait pun bekerja cukup baik. Pengaturan otomatis untuk menghaluskan kulit dan memburamkan latar belakang dapat disesuaikan sesuai selera. Menurut saya, tingkat 2 sudah memberi hasil yang cukup natural.

Ada juga detail kecil yang menarik: watermark dapat berubah warna menyesuaikan isi foto. Ketika komposisinya penuh warna, sistem biasanya memilih putih atau hitam agar tetap terbaca. Ini memang bukan fitur yang akan menentukan keputusan pembelian, tetapi menunjukkan perhatian Motorola pada pengalaman visual.

Motorola Razr FoldFoto: Enche Tjin

Motorola Razr FoldFoto: Enche Tjin

Motorola Razr FoldFoto: Enche Tjin

Keunggulan khas perangkat lipat tetap terasa pada dua layarnya. Layar sampul dapat dipakai sebagai bantuan saat mengambil selfie menggunakan kamera belakang, yang tentu kualitasnya lebih baik daripada kamera depan.

Saat perangkat dibuka, pengguna bisa menyusun komposisi dengan lebih leluasa. Fitur Frame Match juga menarik, pengguna dapat mengambil satu foto sebagai acuan komposisi, lalu orang lain tinggal menyelaraskan framing ketika memotret. Sementara mode Photo Booth memberi cara sederhana untuk menggabungkan empat foto self-timer dalam satu bingkai.

Motorola Razr FoldFoto: Enche Tjin

Untuk video, Razr Fold juga membawa spesifikasi yang sangat tinggi, 8K 30 fps, 4K 60 fps dengan Dolby Vision, 4K 120 fps, hingga Full HD 240 fps untuk slow motion. Pilihan tersebut memperkuat kesan bahwa perangkat ini ingin menjangkau pengguna yang aktif membuat konten, bukan hanya mereka yang menginginkan ponsel dengan bentuk berbeda.

Namun, ambisi tersebut kembali berbenturan dengan satu keterbatasan yang cukup terasa: penyimpanan internal 256 GB. Untuk pengguna kasual, kapasitas ini mungkin masih aman. Akan tetapi, bagi kreator yang merekam video beresolusi tinggi, sering memotret, atau bekerja langsung dari perangkat, ruang simpan tersebut bisa cepat terasa sempit. Motorola tampaknya sudah memikirkan banyak hal, tetapi belum sepenuhnya mengantisipasi pola penggunaan paling berat dari calon usernya.

Ketahanan Razr fold juga cukup baik dengan rating IP49, yang memberi perlindungan terhadap partikel kasar dan air, meski belum untuk debu halus atau pasir. Tekstur di bagian belakang terasa nyaman digenggam dan tidak licin, sementara pelindung plastik sudah disertakan dalam paket penjualan.

Razr Fold juga mendukung Moto Pen Ultra, meskipun stylus tersebut perlu dibeli terpisah. Dengan layar sebesar ini, stylus jelas bukan sekadar aksesori tambahan, tapi merupakan alat yang berpotensi membuat aktivitas seperti menggambar, mencatat, dan mengedit terasa jauh lebih natural.

Motorola Razr FoldFoto: Enche Tjin
Motorola Razr FoldFoto: Enche Tjin

Pada akhirnya, Motorola Razr Fold adalah contoh menarik dari ponsel lipat yang hadir dengan paket sangat lengkap. Ia kuat untuk produktivitas, cukup matang untuk komunikasi, dan sangat serius dalam fotografi.

Harga yang lebih terjangkau dibanding sebagian kompetitor membuat posisinya semakin menarik. Meski begitu, perangkat ini belum sepenuhnya berhasil menyelesaikan dilema utama foldable, bagaimana menawarkan segalanya tanpa membuat ponsel terasa agak besar, berat, dan tebal.

Motorola Razr FoldFoto: Enche Tjin

Bagi penggemar fotografi, Razr Fold jauh dari mengecewakan. Hasil foto konsisten dalam berbagai kondisi cahaya, pilihan lensa lengkap, dan karakter warnanya punya identitas.

Bagi pengguna yang mencari satu perangkat untuk hampir semua kebutuhan, ia layak diperhitungkan. Namun, bagi Motorola sendiri, Razr Fold seharusnya bukanlah produk final. Justru dari perangkat inilah terlihat ruang paling menarik untuk berkembang, terutama dari desain dan kapasitas storagenya.



(rns/afr)






Hide Ads