Jumat, 02 Okt 2015 14:24 WIB

Profil

Nancy Margried: Utak-atik Matematika Menjadi Batik

Rachmatunisa - detikInet
Nancy Margried (dok. pribadi dan jBatik.com ) Nancy Margried (dok. pribadi dan jBatik.com )
Jakarta - Goresan demi goresan ditorehkan seorang wanita pembatik pada sehelai kain panjang di hadapannya. Dengan cekatan, canting di tangannya melukiskan corak, sebelum malam cair menjadi dingin.

Di samping pembatik tersebut, Nancy Margried memperhatikan dengan seksama. Sesekali dia memberikan arahan, memastikan corak yang dihasilkan sesuai dengan desain yang sudah dibuatnya menggunakan software jBatik.

Sejak merilis jBatik pada tahun 2008, Nancy bersama dua rekannya, Muhamad Lukman dan Yun Hariadi asal Bandung, giat memperkenalkan dan memberikan pelatihan batik fractal.

Terutama Nancy, sebagai CEO Piksel Indonesia, dia yang paling aktif wara-wiri dari workshop ke workshop, mendekati pembatik tradisional, menggandeng pemerintah baik lokal maupun nasional, serta tampil sebagai pembicara.

"Kebetulan tugas saya adalah sebagai spokesperson selain sebagai CEO. Lukman sebagai Chief of Design menangani semua desain batik kami dan Yun sebagai Chief of Research menangani semua riset-riset kami baik dalam bidang sains dan perkembangannya dalam teknologi," kata Nancy kepada detikINET.





Berawal dari Utak-atik Rumus Matematika

Siapa sangka, jBatik yang software maupun produk jadinya kini tembus pasar internasional, bermula dari iseng. Kala itu, trio Nancy, Lukman dan Yun mengutak-atik algoritma matematika, membuat sebuah desain.

"Kami menemukan bahwa algoritma matematika bisa menghasilkan gambar geometris yang erat terlihat pada motif batik," ujar Nancy mengingat awal dirinya berkecimpung di industri batik fractal.

Versi awal software ini kemudian dipresentasikan dalam konferensi '10th Generative Art International Conference' di Milan, Italia, pada 2007. Konsep batik fractal mencuri perhatian di konferensi tersebut. Batik fractal dianggap memiliki keunikan, karena memperlihatkan upaya pelestarian budaya yang bersanding dengan teknologi.

"Di 2008, inovasi ini mendapat bantuan dana dari Business Innovation Fund SENADA USAID. Kami kemudian merilis jBatik v.1 dan fokus mendukung seniman batik di Bandung. Sejak itu, Piksel Indonesia mendukung para pengrajin batik di seluruh Indonesia, terutama di Jawa dan Bali," papar Nancy.

Selanjutnya pada 2009, batik fractal pun terjun ke bisnis batik. Piksel Indonesia juga menciptakan fashion batik fractal, di mana para seniman batik tradisional yang diberi pelatihan, ikut ambil bagian sebagai pemasok kain batik.

Yang menarik, peminatnya justru lebih banyak dari luar negeri. Dikatakan Nancy, permintaan terbesar adalah dari Australia dan Kanada. Alasan ini pula yang membuat Nancy semangat membidik pasar luar negeri.

"Batik Indonesia yang bisa tembus pasar internasional itu gak banyak. Jadi marketnya masih luas banget di luar negeri. Sebagai pengusaha ya kita memang harus jeli lihat peluang. Walaupun effort-nya cukup besar untuk bisa ekspor kita jabanin aja," kata Nancy semangat.





Kontroversi

Dalam perjalanan memperkenalkan batik fractal, kontroversi muncul dari sejumlah kalangan. Mulai dari tudingan menumpang ketenaran batik, sampai kekhawatiran software jBatik bisa menurunkan kesakralan budaya batik itu sendiri. Beberapa ada yang menyebut batik fractal tidak bisa dibilang sebagai karya seni batik.

Padahal, proses merancang batik ini rumit dan cukup panjang karena menggabungkan ilmu pengetahuan, seni, dan teknologi. Nancy dan timnya bahkan harus berdiskusi dengan dosen, programmer, ahli batik, hingga pengrajin batik, hingga yakin inovasinya sah sebagai ilmu pengetahuan dan dapat dikategorikan sebagai seni.

"Untuk orang-orang seperti ini kita harus memberikan penjelasan lebih jauh tentang batik fractal itu apa. Teknologinya ada di mana, bagaimana posisi batik fractal dalam bidang kajian batik secara luas. Batik fractal kan muncul dari riset multidimensi panjang. Jadi saya rasa dasar kami cukup kuat," yakin Nancy.

Dengan kegigihan dan kepiawaiannya dalam komunikasi, Nancy perlahan memberikan pengertian mengenai batik fractal. Dikatakannya, saat ini sikap kontra masih ada meski tak separah dulu. Baginya, ini adalah sebuah keberhasilan memberikan penjelasan kepada masyarakat, bahwa teknologi tidak akan merusak budaya.

"Kami membuktikan bahwa jBatik dapat dimanfaatkan bersandingan dengan proses batik tradisional. Dan dengan adanya jBatik tidak akan menghilangkan peran pengrajin batik tradisional," sebutnya.





Memperluas jangkauan Batik

Kini, para seniman batik tradisional tak hanya punya akses ke teknologi dan menggunakannya untuk mengembangkan batik mereka, tetapi juga membuktikan bahwa mereka berkontribusi dalam meningkatkan produktivitas dan penjualan.

"Saat ini kami melatih sekitar 1.400 seniman batik untuk menggunakan software jBatik. Kami ingin ada lebih banyak orang menggunakan software kami," harap Nancy.

Ke depan, Nancy dan timnya tetap fokus dalam pengembangan software agar pemakainya makin banyak bahkan hingga ke luar negeri. Rencananya, aplikasi ini juga bakal merambah mobile sehingga bisa dipakai di smartphone.

Selain itu, dia pun punya ide 'Batik Goes to School' sehingga jBatik bisa masuk dalam kurikulum sekolah. Dirinya berharap jBatik selain bisa membangkitkan kreativitas, juga bisa mencetak wirausaha baru di industri batik berbalut teknologi.




(rns/ash)
-
Load Komentar ...

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed