Siang itu, Rabu (29/11/2012), detikINET berkesempatan untuk berbincang dengan Samuel. Gaya bicaranya lugas dan cepat. Dari apa yang ia tuturkan, ada banyak pembelajaran yang bisa dipetik. Salah satunya adalah bahwa menjadi seorang profesional itu tak ada kata singkat.
Samuel memang mengaku mengenal dunia fotografi dari apa yang ia juluki sebuah sebuah 'kecelakaan'. Berawal dari kegagalan masuk ke sejumlah ekstra kurikuler karena tidak lolos tes, Samuel akhirnya 'nyasar' ke ekskul fotografi." Soalnya itu ekskul yang nggak pakai tes," ujar sosok yang kerap menjadi pembicara berbagai seminar dan workhsop ini seraya bercanda.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Perjalanan Karir
Kamera pertama Samuel dimilikinya setelah beberapa lama menjadi freelance di sejumlah majalah remaja seperti Hai dan Aneka. Sebelumnya? Samuel motret dari hasil pinjem kamera teman-temannya secara bergilir.
Ia pun akhirnya memutuskan untuk keluar dari media dan merintis usaha pemotretan sendiri di tahun 1994. Menjadi freelancer di majalah remaja ternyata membawa keuntungan tersendiri. Ia memiliki koneksi fashion designer di mana hal ini akhirnya membawanya menuju pemotretan yang melibatkan berbagai produk kecantikan dan berhubungan dengan kulit dan rambut.
Boleh dibilang, major dan kekuatannya berada di situ. Memotret kulit memerlukan ketelitian dan kemampuan penguasaan lighting. "Foto itu harus mendekati sempurna dulu. Yang nggak mungkin-mungkin itu misalnya, gigi nggak rata, itu baru Photoshop. Tapi lightingnya sendiri itu harus membuat kulitnya kayaknya halus banget, padahal aslinya enggak," ujarnya berbagi ilmu.
Baginya perhatian terhadap detail atau hal-hal yang kecil itulah yang membedakan antar fotografer. "Misalnya kadang motret modelnya sama, kamera sama, tapi hasilnya udah lain. Nah kayak gitu yang kecil-kecil. Memang kalau sudah kerja, yang kecil itu yang jadi hitungan dan bisa bedain. Misalnya model agak gelap atau kulitnya pucat, bukan pakai Photoshop tapi pakai akal-akalan lighting," tambahnya.
"Sampai sejauh ini ngga ada tuh buku yang bisa jelasin ngasi tahu menjadi profesional, karena nggak ada yang mau ngasih tahu rahasianya, palingan buku belajar motret. Kalau ada saya mau beli tuh, kan mempersingkat waktu," tuturnya.
"Sebenarnya saya mau melukis, suka dengan lukisan, tapi dulu gak ada ekskul lukis. Jadi sekarang saya menganggap kamera itu sebagai media, alat buat 'ngelukis'. Memang beda dengan lukisan. Memang awalnya dulu kecelakaan, tapi akhirnya seneng juga," paparnya dengan ramah.
Berbicara mengenai panutan, pria ini dengan fasih menyebut nama 3 fotografer fashion dunia, Richard Avedon, Helmut Newton dan Albert Watson. Untuk fotografer Indonesia sendiri, baginya di bidang yang sama, ia mengagumi karya Indra Leonardi, lantas untuk foto jurnalistik, karya Oscar Matulohlah yang membuatnya terkesan. "Satu kaya untuk karya Pak Indra, perfect,".
Pencapaian Terbesar
Menilik perjalanan panjangnya yang dimulai dari era analog hingga sekarang, bagi Samuel, achievement terbesar yang pernah diraihnya ialah waktu fotonya memenangkan perlombaan di New York tahun 2001. "Beberapa kali ikut lomba lokal, nggak pernah menang, aneh kan. Waktu itu saya ikut lomba foto portraiture di sana," imbuh sosok yang hingga kini setia dengan kamera full frame Canon 5D Mark III ini.
Sedang di bidang pekerjaan, kemampuannya dalam mempertahankan customer selama lebih dari 10 tahun adalah sebuah pencapaian berharganya. "Kita hidup dari kepercayaan. Kalau hit and run, susah," tukasnya.
Tak luput ia menceritakan perbedaan belajar fotografi dulu dan sekarang. Di mana ia mengakui bahwa belajar fotografi di era sekarang jauh lebih mudah. Namun ada satu yang tidak bisa berubah, yakni bahwa seorang profesional itu tak bisa didapat dengan singkat.
"Apapun itu juga, jadi profesional nggak singkat. Kita bisa mempercepat, kayak dikarbit, tapi kita gak bisa jalan pintas. Kalau rangkaiannya A sampai Z, ya kita harus jalani A, B, C, sampai Z.
Kita ngga mungkin dari A trus loncat ke Z. Misal itu tadi, abis foto pengenalan kamera, cocok apa enggak trus lensanya gimana kan karakternya beda-beda. Mau nggak eksplore di situ. Begitu tahu, kita motret ini, harusnya pakai lensa ini, kalau nggak ada ini (lensa-red), pulang dulu ambil, beli atau nyewa. Jadi profesional nggak mungkin singkat," tegasnya menutup pembicaraan siang itu di kawasan Epicentrum.
(sha/ash)