BERITA TERBARU
Senin, 30 Jan 2012 11:26 WIB

Sosok

Ruby Alamsyah: Menguak Fakta dengan Digital Forensik

- detikInet
Jakarta - Tatapan Ruby Zukri Alamsyah tajam, hampir tak berkedip menatap deretan layar monitor di hadapannya. Keningnya terkadang berkerut mencermati layar secara bergantian. Saat senyum tersungging, menandakan dia menemukan titik terang atas teka-teki yang harus dirampungkannya.

Di laboratorium penuh perangkat komputer di salah satu sudut rumahnya, Ruby berkutat dengan kesenangan terhadap bidang IT (Information Technology) yang sekaligus menjadi bagian dari pekerjaannya, yakni melakukan analisa digital forensik.

"Sejak di bangku SD saya memang sudah tertarik dengan dunia IT dan didukung ayah dan ibu. Saking hobi, zaman sekolah SMP dan SMA, kalau liburan itu selalu saya isi dengan mengikuti kursus komputer. Orang aneh memang, tapi ya itulah karena suka banget," kata Ruby tertawa renyah.




Awal Terjun

Kecintaan terhadap dunia IT secara tidak sengaja menggiring Ruby menceburkan diri di bidang digital forensik. Sejak lulus dari Universitas Gunadarma, putra dari Alamsyah Tankama (alm) dan Husnil Khatimah (alm) ini memulai karir profesionalnya di bidang IT.

"Awal mulanya saya main di aplikasi. Sambil berjalan saya main di sistem lalu terjun di networking. Setelah itu saya stuck. Mau ngapain lagi?," kenang Ruby.

Ruby pun dengan mantap memutuskan untuk memulai bisnis IT miliknya sendiri. Bersama Desy Asih Madirini pacar sejak di bangku SMA yang kini menjadi istri tercintanya, Ruby merintis PT Jaringan Nusantara di 2001. Mencari ilmu dan tantangan baru, adalah motivasi Ruby kala itu. Dan pada 2003, Ruby pun mendapatkan jawaban dari kebuntuannya.

"Saya memikirkan sesuatu yang belum pernah ada agar orang tertarik. Lantas saya mulai mempelajari digital forensik, melakukan riset dan saya menyimpulkan ilmu ini akan sangat berguna. Di Indonesia belum ada waktu itu," ujarnya.

Pria yang juga senang mempelajari teknik hacking ini sangat yakin digital forensik dibutuhkan terutama oleh para penegak hukum. Pasalnya, sebagian besar kasus yang terjadi di zaman sekarang kerap memiliki barang bukti digital.

Namun tak semudah itu memulai bisnis baru. Tantangan pertama Ruby adalah memperkenalkan digital forensik itu sendiri. Sulit bagi Ruby mengembangkan bisnis digital forensik saat itu, mengingat di Indonesia belum ada yang tahu ilmu ini.

"Sejak 2003 hingga 2006 saya menggali banyak ilmu tentang digital forensik. Hingga tiba saatnya saya berpikir, pasarnya mana? Orang yang butuh mana? Gak ada," kenang Ruby seraya tertawa.

Tak perlu waktu lama bagi ayah dari Athazahra Nabila Ruby ini menemukan permasalahannya. Ruby menyadari, saat itu para penegak hukum di Indonesia belum menyadari pentingnya digital forensik. Dengan cerdik, Ruby pun mendekati kepolisian dan para penegak hukum.

Maka, selama 2006 hingga 2009, Ruby getol membantu tim kepolisian. Selain menjajal ilmu, niatnya pada waktu itu adalah mensosialisasikan para penegak hukum di Indonesia. Ada tiga yang menjadi targetnya, yakni polisi, jaksa dan lawyer.

"Jika tiga ini melek soal digital forensik, mereka sadar ilmu ini sangat dibutuhkan," yakin pria ramah ini.



Antasari Hingga Ariel 'Peterpan'

Sebutan sebagai pelopor digital forensik Indonesia kerap disandangkan pada Ruby, mengingat dia orang yang pertama kali mempopulerkannya di Tanah Air.

Ruby sendiri selalu bersemangat jika menceritakan profesinya. Sebagai analis digital forensik, pria yang sedang menanti kelahiran anak keduanya ini menemukan keasyikan tersendiri saat diminta meneliti barang bukti digital.

"Digital forensik itu seru. Kasus yang melibatkan barang bukti digital, dapat dibuktikan. File yang sudah lama, sulit ditemukan bahkan hilang sekalipun dengan digital forensik bisa ketemu. Nantinya ini akan menjadi barang bukti berharga di pengadilan, menguak semuanya sehingga terang benderang," ujar Ruby tersenyum simpul.

Melihat perawakannya yang mungil serta wajah yang baby face, orang mungkin tidak menyangka jika pria 37 tahun ini punya kemampuan membantu menangani sederet kasus besar. Namanya kian dikenal, terutama setelah dia diminta muncul sebagai saksi ahli di persidangan kasus-kasus tersebut.

Ya, sebut saja kasus pembunuhan aktivis Hak Asasi Manusia Munir Said Thalib, kasus mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi Antasari Azhar, peredaran video Nazriel Ilham atau Ariel Peterpan dan kasus pencemaran nama baik yang mendera Prita Mulyasari.

Kasus pembunuhan yang melibatkan Antasari Azhar, boleh dibilang adalah titik balik digital forensik di Indonesia. Kala itu Ruby gembira mengetahui bahwa kesadaran akan pentingnya digital forensik telah tumbuh di kalangan aparat kepolisian dan para penegak hukum.

Kini, orang Indonesia pertama yang menjadi anggota High Technology Crime Investigation Association yang berpusat di Amerika Serikat ini, tinggal menikmati buah perjuangannya.

Suka duka tentulah ada. Banyak orang menilai profesinya berisiko tinggi karena harus berhadapan dengan hukum dan kasus kejahatan. Namun Ruby mengaku tak gentar.

"Ketakutan akan hilang dengan sendirinya jika kita profesional, jujur dan kompeten, itu saja. Saya hanya memperlihatkan apa yang ditemukan berdasarkan fakta. Saya bicara apa adanya. Ya sudah, lepas saja," simpulnya.


(rns/ash)
-
Load Komentar ...

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed