Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
News From Blog
'Internet Bangkok', Bukan Hanya Jambu
News From Blog

'Internet Bangkok', Bukan Hanya Jambu


- detikInet

Jakarta - Setelah kehadiran si kecil, Enda Nasution melengkapi kegembiraannya tinggal di rumah dalam bentuk koneksi Internet kelas pemakai rumah dengan rasio koneksi dan harga yang membuat kita iri: sekitar Rp 100.000,00/bulan untuk kecepatan unduh sekitar 232 kbps. Enda bukan tinggal di Eropa, bukan di Amerika Serikat, dan bukan juga di Jepang: dia penulis blog yang beberapa hari lalu bertanya-jawab dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Bangkok, Thailand. Lebih persisnya: koneksi menggiurkan tersebut terpasang di Pathumtani, kota kecil tempat Asian Institute of Technology, di pinggiran Bangkok. Hasil pengujian koneksi yang dilakukan EndaHasil pengujian koneksi yang dilakukan Enda. Sumber: lampiran yang dikirim Enda ke Id-gmail.Tentu saja ukuran koneksi yang dinikmati Enda jangan dibandingkan dengan kapasitas jor-joran yang sudah lazim ditawarkan penyedia jasa Internet di negara maju: yang impresif adalah rasio koneksi (lebih lambat) dengan harga super-terjangkau. Termasuk yang sedikit mengejutkan saya adalah kecepatan unggah, sebesar dua kali lipat kecepatan unduh tadi. Pengalaman saya menggunakan koneksi rumah di Belanda, penyedia jasa Internet di sana 'pelit' dengan kecepatan unggah ini: dari semenjak saya berlangganan hingga akhir, kecepatan unduh sudah dinaikkan delapan kali lipat semula (akibat kompetisi keras pada tahun 2003-2004) sedangkan kecepatan unggah hanya dinaikkan dua kali lipat. Jika memang koneksi di tempat Enda stabil pada kecepatan tersebut, menarik juga dipasangi server Web pribadi berskala kecil.Dari Thailand kita tidak hanya belajar membuat citra sohor seperti 'Jambu Bangkok', melainkan juga penyediaan layanan akses Internet bagi pemakai kebanyakan. Dua-tiga tahun lalu saya pernah dikabari salah seorang teman yang sedang mengambil program doktoral di Asian Institute of Technology bahwa dari tempat tinggal dia (kelihatannya di dalam lingkungan kampus), koneksi lewat akses dial up juga murah: ongkos yang dibayar untuk pulsa telepon hanya pada pemanggilan, setelah itu tidak ada biaya per pulsa. Entah ini fasilitas yang disediakan di lingkungan kampus atau berlaku untuk semua pemakai koneksi dial up, saya belum tahu persis.Di Bandung, yang juga memiliki 'institute of technology'? Dengan koneksi kontinu hanya secepat dial up, harga yang kami bayar untuk koneksi kantor mencapai dua puluh kali lipat harga pinggiran Bangkok. Barangkali karena untuk pemakaian bisnis, tarif dan keandalannya berbeda. Ups... keandalan? Bulan ini koneksi yang kami terima sering terputus, terutama sekitar jam 04.00-08.00."Artikel diambil dari blog http://direktif.web.id, atas persetujuan pengelolanya. Judul artikel bisa disesuaikan, tanpa mengubah/mengurangi makna." (wsh/)





Hide Ads