Senin, 01 Apr 2019 13:20 WIB

Pengakuan WhatsApp Soal Melacak Pesan

Fino Yurio Kristo - detikInet
WhatsApp. Foto: Adi Fida Rahman/detikINET WhatsApp. Foto: Adi Fida Rahman/detikINET
Jakarta - WhatsApp mendapat tekanan dari beberapa pihak untuk membuka pesan di platformnya jika diminta aparat atau diminta melacak dari siapa sebuah pesan berasal. Bagaimana penjelasan mereka soal itu?

Tekanan antara lain datang dari pemerintah India terkait maraknya hoax di WhatsApp. Tapi seperti diketahui, WhatsApp menerapkan penyandian end to end sehingga hanya penerima dan pengirim pesan bisa membaca konten. Melacak dari mana asal muasal sebuah pesan sampai ke pengirim pertama pun tidak memungkinkan.

Dikutip detikINET dari The News Minute, WhatsApp memang bisa saja melakukan kemauan otoritas tersebut. Akan tetapi dibutuhkan perombakan total pada layanannya sehingga akan berbeda dan tidak lagi privat.



"Bayangkan jika setiap pesan yang kalian kirimkan disimpan dengan rekaman bahwa kalian yang mengirimkannya beserta nomor ponsel kalian. Itu bukanlah sebuah komunikasi privat," sebut WhatsApp.

Untuk menangkal hoax, WhatsApp tidak membaca pesan, tapi mempelajari pola komunikasi di akun. Salah satu indikatornya, akun-akun ini tidak pernah menampilkan tulisan status 'typing' atau sedang mengetik, karena pesan yang dikirimkan berasal dari akun bot otomatis.

Akun WhatsApp mencurigakan juga cenderung mengirim pesan dalam volume besar, tak lama setelah mendaftar. Dari teknologi itu, sekitar 2 juta akun mencurigakan dihapus tiap bulan.



"Sekitar 95% dari 2 juta akun yang dihapus merupakan hasil pendeteksian perilaku menggunakan WhatsApp yang tidak normal," kata Matt Jones dari tim anti-spam WhatsApp.

Selain dengan teknologi itu, WhatsApp melakukan berbagai upaya lain menangkal hoax. Dari melabeli pesan sebagai forwarded atau terusan sampai membatasi jumlah pesan terusan hanya bisa dilakukan ke lima orang. (fyk/rns)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed