Sementara di 2007 prosentase angka pembajakan hanya turun 1% menjadi 84%. Meski turun namun negara tetap saja rugi hingga mencapai angka USD 411 juta. Namun, paling tidak hal itu menandakan bahwa penggunaan software asli makin meningkat.
"Berkaca dari itu kami tertarik untuk terus memberikan pemahaman mengenai pentingnya penggunaan software asli kepada konsumen," ujar Refany Iskandar, Managing Director PT Sarana Solusindo Informatika (Solusi), salah satu perusahaan penydia jasa TI, dalam jumpa persnya di Sheraton Hotel, Jalan Embong Malang, Surabaya, Rabu (11/6/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Konsumen harus kita edukasi bahwa software asli mempunyai value added dibanding software bajakan," tambahnya.
Software asli, kata Refany, saat pertama kali diciptakan dan dipasarkan memang tidak 100% sempurna. Tetapi kesempurnaan itu akan didapat dari koreksi-koreksi yang diberikan konsumen untuk selanjutnya oleh pihak yang bersangkutan akan diperbaiki dan disempurnakan. Konsumen sendiri bisa mendapatkan kesempurnaan itu antara lain melalui download di internet.
"Kalau yang pakai software bajakan pasti tidak bisa update karena serial numbernya tidak teregistrasi. Itulah salah satu value added-nya," urai Refany.
Bagi negara sendiri, kata Refany, pembajakan yang makin merajalela bahkan bisa mengguncang ekonomi suatu negara. Contoh sederhananya adalah investor bakal enggan menanamkan investasinya di suatu negara bila sebagian besar perangkat infomasinya menggunakan software ilegal yang tidak kompatibel.
"Pembajakan adalah salah satu indikator kesehatan suatu negara," ia menandaskan.
Mau ngobrol seputar sweeping dan pembajakan software? yuk, berdiskusi di detikINET Forum. (iwd/ash)