Menurut laporan yang dikeluarkan IDC tersebut, AS memiliki tingkat pembajakan software sebesar 20%, angka ini merupakan presentase terkecil dibanding negara-negara lain di dunia. Namun di sisi lain, AS juga harus menderita kerugian mencapai US$ 8,04 miliar akibat pembajakan, yang juga merupakan nilai kerugian terbesar dibanding negara lain.
Donny A. Sheyoputra, representatif Business Software Alliance (BSA) Indonesia mengatakan, hal ini akibat pasar software di Negeri Paman Sam sudah sebegitu besarnya. Sehingga dengan tingkat pembajakan yang termasuk kecil namun sangat berdampak pada nilai kerugian yang dihasilkan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain AS, China dan Rusia juga masuk ke dalam tiga besar negara yang memiliki tingkat kerugian terbesar akibat pembajakan software ini. Keduanya juga merupakan negara besar yang memiliki pasar software yang luas.
Indonesia sendiri, dengan tingkat pembajakan 84% memiliki nilai kerugian sebesar US$ 411 juta di 2007. Jumlah ini meningkat ketimbang 2006, yang dinilai 'hanya' memiliki kerugian sebesar US$ 350 juta dan tingkat pembajakan 85%.
Berikut adalah lima negara dengan kerugian terbesar akibat pembajakan software di 2007 menurut data IDC:
1. Amerika Serikat US$ 8,04 miliar
2. China $ 6,6 miliar
3. Rusia $ 4,1 miliar
4. Perancis $ 2,6 miliar
5. India $ 2,0 miliar
Mau curhat soal aksi sweeping aparat atau seputar pembajakan?Sampaikan di detikINET Forum
(ash/ash)