Perwakilan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyebut lima bahaya apabila regulasi untuk menjaga anak dari internet terabaikan. Kesehatan fisik sampai mental bisa kena dampaknya apabila penggunaan internet tidak dapat diatur demi keamanan anak.
Dr dr Bernie Endyarni Medise, SpA, Subsp.TKPS, MPH, menjelaskan dalam Konferensi Pers Update Implementasi PP Tunas, Rabu (7/10/2026). Pertama, ketika anak memiliki screen time berlebih tanpa batasan, anak-anak kadang-kadang tidak tahu kapan harus berhenti.
"Nah, bahayanya apa? Kalau kita lihat dari sisi pertumbuhan tentunya ini bisa menyebabkan gangguan pada proses tubuhnya sendiri. Kalau kebanyakan ada sedentary life, akhirnya yang disebut dengan obesitas, auto overweight ujung-ujungnya hipertensi, diabetes dan lain sebagainya," kata di kantor Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), Jakarta Pusat.
Ketua Bidang Hubungan Masyarakat dan Kesejahteraan Anggota dari Perwakilan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) ini menambahkan ancaman kedua yakni pertumbuhan. Pada usia dini, seharusnya anak belajar tentang keluarganya hingga belajar bagaimana dia berbicara. Namun, waktunya malah habis untuk screen time yang hanya satu arah.
Bahkan, belum tentu kontennya benar sehingga ini membahayakan. Terkadang pula, pada anak-anak yang terlalu banyak screen time terjadi masalah dalam perkembangan baik itu perkembangan bahasa, sosial sampai emosional.
"Kemudian yang ketiga, adiksi karena screen time atau apapun itu yang selalu dilakukan berulang-ulang dan sifatnya seperti menyenangkan. Ini yang disebut dengan dopamine neurotransmitter, dopaminnya yang keluar ini menyebabkan adiksi. Dia ingin melakukannya, melakukannya lagi, dan sulit pada anak-anak (untuk berhenti -- red) tentunya, karena kadang-kadang pada dewasa saja kita sulit menyetop apalagi ini pada anak-anak," tegasnya.
Isu keempat yang tak kalah mengkhawatirkan dan ditakutkan pada anak-anak usia sekolah-remaja adalah cyberbullying. Ketika bermain media sosial yang terlalu berlebihan, penggunaan kata-kata yang tidak tepat bisa saja terjadi. Ini kemudian menyerang anak lain dan terjadilah cyberbullying.
"Yang terakhir, juga adanya cyberbullying ini, ujung-ujungnya juga adalah mental health. Kesehatan mental anak juga bisa terdampak. Mungkin lima hal ini yang saya rasa paling penting sehingga kami dari IDAI dan FKUI (Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia) sangat-sangat apresiasi dengan apa yang sudah dilakukan oleh Komdigi," pungkasnya.
Simak Video "Video: Arnold Ph. Djiwatampu Raih Best Lifetime Achiever Dunia Telekomunikasi "
(ask/fay)