Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
AI Makin Cerdas, Tapi Ada Skill Manusia yang Tak Tergantikan

AI Makin Cerdas, Tapi Ada Skill Manusia yang Tak Tergantikan


Rachmatunnisa - detikInet

Pengunjung disuguhi tampilan robot humanoid yang hidup antara lain pada Konferensi Robot Dunia (WRC) 2023 di ibu kota China, Beijing, Kamis 17 Agustus 2023, dengan teknologi baru yang meningkatkan ekspresi dan gerak tubuh robot mirip manusia.
Robot mirip manusia dipamerkan di World Robotic Conference di Beijing, China pada 2023. Foto: REUTERS/Tingshu Wang
Jakarta -

Semakin canggih kecerdasan buatan (AI), bukan berarti semua kemampuan manusia menjadi tidak relevan. Justru ada sejumlah kualitas manusia yang dinilai akan semakin penting ketika AI mulai mengambil alih lebih banyak pekerjaan.

Carlos Quaderi, Head of Asia Pacific Zoom, mengatakan AI memang semakin pintar dalam mengolah informasi dan menjalankan tugas. Namun, ada sisi manusia yang tidak dimiliki teknologi tersebut, terutama dalam memahami situasi dan mengambil keputusan yang membutuhkan pengalaman.

"AI bisa meniru tugas, tetapi AI tidak memiliki kesadaran," kata Carlos dalam wawancara di Go Work, Pacific Place, Jakarta, Kamis (8/10/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurutnya, AI bahkan dapat terlihat seolah-olah memiliki kesadaran karena mampu meniru cara manusia berpikir dan berkomunikasi. Namun, kemampuan tersebut tetap berbeda dengan kesadaran manusia.

"AI sangat pintar dalam berpikir berdasarkan pengetahuan. Bahkan AI sangat pintar dalam meniru kesadaran. Tetapi itu bukan kesadaran yang sebenarnya," ujarnya.
Karena itu, Carlos menilai kualitas seperti empati, interaksi antarmanusia, penilaian, pengalaman, dan kebijaksanaan akan semakin penting.

ADVERTISEMENT

"Jadi kualitas manusia seperti empati, interaksi manusia yang sebenarnya, penilaian yang berasal dari pengalaman, seperti kebijaksanaan, semua hal ini akan menjadi sangat penting, serta menjadi semakin penting," kata Carlos.

Carlos Quaderi, Head of Asia Pacific ZoomCarlos Quaderi, Head of Asia Pacific Zoom. Foto: Rachmatunnisa/detikINET

Menurutnya, peran manusia juga akan berubah seiring AI mulai menghasilkan lebih dari sekadar output. Manusia tidak cukup hanya memeriksa hasil yang diberikan AI, tetapi perlu tetap terlibat ketika teknologi mulai membantu menghasilkan keputusan atau outcome yang lebih penting.

Ia menggambarkannya melalui konsep human in the loop atau manusia di dalam putaran. Saat ini, manusia sering kali berada dalam posisi mengecek ulang hasil AI setelah pekerjaan dilakukan. Ke depan, manusia perlu tetap terlibat dalam proses pengambilan keputusan. "Manusia akan membutuhkan pengawasan terhadap AI," ujarnya.

Carlos memberikan contoh di bidang medis. AI mungkin mampu menganalisis data dan membantu mengidentifikasi kondisi kesehatan seseorang. Namun, keputusan akhir tetap membutuhkan manusia.

"AI mungkin bisa mendiagnosis menggunakan data suatu kondisi medis seseorang, tetapi apakah Anda akan mengandalkan AI untuk kondisi medis Anda? Tidak. Anda akan tetap menginginkan dokter, manusia secara fisik, untuk terlibat dalam menentukan hasilnya," tuturnya.

Dengan demikian, menurut Carlos, semakin pintar AI bukan berarti manusia tersingkir sepenuhnya. Sebaliknya, kemampuan yang berkaitan dengan pengalaman, pertimbangan, empati, dan interaksi manusia akan menjadi pembeda ketika mesin semakin mampu menangani pekerjaan teknis.



(rns/fay)




Hide Ads