Pemerintah menegaskan penguatan ekosistem digital menjadi salah satu strategi utama untuk mengejar target pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 8% di era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Upaya tersebut tidak hanya difokuskan pada pembangunan infrastruktur digital, tetapi juga mencakup pengembangan talenta, investasi teknologi, pusat data (data center), hingga penguatan keamanan siber.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan pembangunan ekosistem digital merupakan arahan langsung Presiden Prabowo Subianto agar Indonesia memiliki fondasi ekonomi digital yang kuat sekaligus mampu bersaing di tingkat global.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Disampaikan Airlangga, salah satu tantangan terbesar saat ini adalah ketersediaan sumber daya manusia. Karena itu, pemerintah tidak hanya membangun infrastruktur digital, tetapi juga memperkuat ekosistem talenta agar kebutuhan industri dapat dipenuhi oleh tenaga kerja dalam negeri.
"Karena tanpa ekosistem talenta, semikonduktor atau yang lainnya tidak akan jalan. Kita tidak ingin talenta yang akan mengisi digital harus outsource lagi dari luar negeri," kata Airlangga dikutip dari keterangan tertulis, seperti dilansir Jumat (7/8/2026).
Sebagai bagian dari strategi tersebut, pemerintah telah menggandeng salah satu perguruan tinggi terkemuka di India untuk membuka kampus di Indonesia. Langkah ini diharapkan dapat mempercepat pencetakan talenta digital yang dibutuhkan industri nasional.
Di sisi lain, pemerintah juga terus mendorong masuknya investasi teknologi yang tidak hanya membawa modal, tetapi juga transfer pengetahuan dan inovasi.
Direktur Jenderal Ekosistem Digital Kementerian Komunikasi dan Digital, Edwin Hidayat Abdullah, mengatakan penguatan ekosistem digital nasional dibangun melalui enam strategi utama. Strategi tersebut meliputi pemerataan konektivitas, pengembangan talenta digital, penguatan kolaborasi lintas sektor, peningkatan investasi, penyempurnaan regulasi, serta penciptaan iklim usaha yang sehat.
"Kita butuh investasi yang bukan hanya kapital tetapi juga pengetahuan. Kita butuh teknologi yang inovatif, aman, dan bertanggung jawab. Semua investasi ini harus bermuara pada satu tujuan, yaitu memastikan teknologi tidak hanya menghubungkan Indonesia, tetapi juga melindungi hak masyarakat dan memperkuat masa depan," tuturnya.
Sementara itu, Ketua Umum Masyarakat Telematika Indonesia (Mastel), Sarwoto Atmosutarno, menilai Indonesia juga perlu melakukan lompatan teknologi agar tidak tertinggal dari negara lain. Menurutnya, percepatan implementasi jaringan 5G, pengembangan jaringan satelit berbasis non-terrestrial network (NTN), adopsi teknologi kriptografi kuantum, hingga peningkatan kapasitas data center menjadi kebutuhan yang tidak bisa lagi ditunda.
"Indonesia harus loncat segera ke 5G, loncat ke kripto kuantum, kemudian loncat juga ke satelit non-terrestrial network. Kita juga harus mempercepat penyediaan data center yang kapasitasnya memenuhi kebutuhan nasional," kata Sarwoto.
Penguatan ekosistem digital juga dinilai harus dibarengi dengan peningkatan keamanan siber. Kepala Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), Nugroho Sulistyo Budi, mengatakan ancaman siber kini semakin kompleks dan sebagian besar justru berasal dari kerentanan internal, seperti kebocoran kredensial, malware, hingga kesalahan manusia.
Menurutnya, penerapan teknologi harus dibangun dengan pendekatan security by design dan resilient by architecture, disertai kolaborasi antarlembaga dalam berbagi informasi ancaman siber.
Berbagai strategi tersebut menjadi fokus pembahasan dalam Digital Transformation Indonesia Conference & Expo (DTI-CX) 2026 yang digelar pada 5-6 Agustus 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC), Jakarta.
Mengusung tema "Konektivitas Digital untuk Indonesia Berdaulat", forum yang menjadi bagian dari rangkaian Hari Bhakti Postel ke-81 itu mempertemukan pemerintah, pelaku industri, penyedia teknologi, asosiasi, dan investor untuk membahas pengembangan ekosistem digital nasional.
Penyelenggara menargetkan lebih dari 13.000 peserta menghadiri DTI-CX 2026, dengan ratusan pembicara dari dalam dan luar negeri serta ratusan perusahaan teknologi yang memamerkan inovasi di bidang kecerdasan buatan (AI), cloud computing, data center, keamanan siber, hingga infrastruktur digital.

