Kasus dugaan pelanggaran ekspor teknologi canggih kembali mengguncang industri semikonduktor Amerika Serikat. Jaksa penuntut menuduh salah satu pendiri Supermicro, Yih-Shyan Liaw, menggunakan metode canggih untuk menyelundupkan server kecerdasan buatan (AI) berisi prosesor canggih Nvidia ke China.
Liaw diduga memesan server AI melalui jaringan perantara, kemudian mengirimkannya ke China melalui makelar di Asia Tenggara. Pengiriman ini disamarkan dalam kotak tanpa merek untuk mengakali kontrol ekspor AS yang telah membatasi penjualan chip canggih ke perusahaan China sejak 2022.
Otoritas federal baru-baru ini mendakwa Liaw bersama seorang karyawan perusahaan dan kontraktor luar atas tuduhan penyelundupan server senilai sekitar 2,5 miliar dolar AS. Kasus ini langsung berdampak pada saham Supermicro yang anjlok hingga 30% dalam waktu sehari setelah kabar tersebut beredar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebagai informasi, Supermicro adalah perusahaan teknologi informasi asal Amerika Serikat yang dikenal sebagai produsen server, software manajemen server, dan berbagai hal lain yang terkait dengan server.
Selama dua tahun terakhir, AS memang berupaya keras membatasi akses China terhadap kekuatan pemrosesan yang menggerakkan model AI modern. Meskipun China terus mengejar dalam pengembangan perangkat lunak, mereka masih sangat bergantung pada perangkat keras asing, terutama chip buatan Nvidia yang mendominasi 95 persen kapasitas pemrosesan AI global.
Penyelidik menduga operasi yang dijalankan Liaw mengandalkan pialang yang menempatkan pesanan sah untuk sistem yang dikemas dengan chip Nvidia. Server tersebut dikirim ke sebuah entitas di Asia Tenggara yang berfungsi sebagai jalur transit, di mana barang kemudian dilabeli ulang dan diteruskan ke China. Untuk mengaburkan jejak, kelompok ini bahkan disebut membuat ribuan server tiruan untuk disimpan di gudang.
Supermicro sendiri tidak disebutkan sebagai terdakwa dalam kasus ini. Pihak perusahaan menyatakan tengah bekerja sama dengan otoritas dan menekankan bahwa mereka memiliki program kepatuhan yang kuat.
Namun, rekam jejak internal perusahaan kini kembali menjadi sorotan setelah auditor Ernst & Young mengundurkan diri beberapa waktu lalu karena kekhawatiran terhadap kontrol internal perusahaan, demikian dikutip detikINET dari Techspot, Kamis (2/4/2026).
Fenomena ini mencerminkan pola pengalihan barang di pasar luar negeri yang semakin marak. Banyak jaringan pengepul memanfaatkan kompleksitas rantai pasok chip modern yang melibatkan desain di AS, fabrikasi di TSMC Taiwan, hingga perakitan akhir sebelum diperdagangkan melalui jaringan pengecer global yang rumit.
Beberapa anggota parlemen AS kini mendesak pengetatan aturan, termasuk usulan agar chip canggih dilengkapi teknologi pelacakan lokasi. Namun, para pemimpin industri meragukan langkah tersebut akan sepenuhnya menghentikan perdagangan ilegal, mengingat permintaan perangkat keras AI yang sangat tinggi dan margin keuntungan yang sangat menggiurkan bagi para penyelundup.
(asj/asj)

