Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Soal Daya Saing Industri TI, Indonesia Peringkat ke-57

Soal Daya Saing Industri TI, Indonesia Peringkat ke-57


- detikInet

Jakarta - Indonesia menempati urutan ke-57 di seluruh dunia dan urutan ke-14 di kawasan Asia Pasifik untuk urusan daya saing industri teknologi informasi (TI) berdasarkan studi terbaru yang dilakukan secara independen oleh Economist Intelligence Unit.Dalam studi yang melibatkan 64 negara yang berasal dari 7 kawasan itu, Indonesia mendapat skor indeks keseluruhan 23,7. Posisi ini tidak terlalu baik jika dibandingkan dengan negara tetangga kita seperti Singapura yang menempati urutan 11 (dengan skor 63,1), Malaysia di posisi 36 (34,9), Thailand di urutan 41 (31,9) serta Filipina di urutan 47 (28,7), sementara Indonesia hanya mampu berada di atas Vietnam yang menempati posisi ke 61 (19,9).Skor Indeks tersebut disusun berdasarkan enam kategori penilaian. Yaitu terkait lingkungan bisnis secara keseluruhan, peran dan dukungan pemerintah, lingkungan hukum, penelitian dan pengembangan, sumber daya manusia serta infrastruktur TI.Menurut riset yang disponsori Business Software Alliance (BSA) ini, bidang yang paling lemah untuk Indonesia adalah infrastruktur TI dengan berada di urutan paling buncit alias peringkat ke-64 dengan skor 0,0 di antara semua negara yang diteliti. Bidang ini antara lain meliputi belanja hardware, software dan layanan TI, kepemilikan komputer dekstop dan laptop, koneksi broadband, serta server Internet yang aman, yang dihitung berdasarkan hitungan per kapita.Sementara negara tetangga kita umumnya menempati peringkat yang jauh lebih baik di bidang infrastruktur TI ini. Seperti Singapura yang berada di urutan ke-12 (skor 58,8), Malaysia peringkat ke-33 (16,5), Thailand urutan ke-49 (6,4), Filipina urutan ke-55 (2,2) dan Vietnam di urutan ke-60 (0,6).Seow Hiong Goh, BSA DIrector for Software Policy mengatakan, dengan menempati peringkat ke-57 posisi Indonesia memang tidak terlalu bagus, namun jangan melihat dari peringkat semata. "Posisi tersebut sebenarnya tidak terlalu penting, tetapi yang terpenting adalah bagaimana meningkatkan dan memperbaiki industri TI Indonesia ke depan," tuturnya, saat konferensi pers yang berlangsung di Hotel Shangrila -- Jakarta --, Rabu malam (26/9/2007).Dan setidaknya, lanjut Goh, riset ini dapat menjadi masukan dan bahan kajian bagi pemerintah atau pembuat kebijakan untuk memperbaiki daya saing industri TI-nya. "Tidak bisa dipastikan perlu berapa tahun bagi Indonesia untuk memperbaiki posisi karena itu tergantung dari improvement yang dilakukan," imbuhnya.Asia Pasifik Mampu Bersaing Indeks secara keseluruhan menyimpulkan bahwa sejumlah negara memiliki semua faktor yang diperlukan untuk sektor TI yang tumbuh pesat. Riset ini menempatkan Amerika Serikat (AS) di posisi teratas (dengan skor 77,4), mengungguli Jepang (72,7) dan Korea Selatan (67,2) di tempat kedua dan ketiga, sedangkan Iran menempati posisi buncit (15,7).AS dianggap mampu mengandalkan kekuatan kombinasi antara skala dan kualitas di bidang-bidang utama yang mendukung daya saing TI. Negara Asia Pasifik lainnya juga mampu bersaing dengan mengisi beberapa pos teratas, seperti Jepang Korea Selatan, Australia, Taiwan serta Singapura.Meski demikian, kelima negara ini menghadapai tantangan yang kuat untuk bisa tetap kompetitif. Tantangan terbesar itu antara lain jaminan tersedianya pasokan tenaga kerja berbakat untuk industri TI dan dukungan yang memadai dari pemerintah untuk mendukung kompetisi dan inovasi.Berikut adalah ranking yang dikeluarkan Economist Intelligence Unit.1. Amerika Serikat (skor 77,4)2. Jepang (72,7)3. Korea Selatan (67,2)4. Inggris (67,1)5. Australia (66,5)6. Taiwan (65,8)7. Swedia (65,4)8. Denmark (64,9)9. Kanada(64,6)10. Swiss (63,5)11. Singapura (63,1)57. Indonesia (23,7)61. Vietnam (19,9)62. Azerbaijan (18,8)63. Nigeria (18,7)64. Iran (15,7) (ash/ash)







Hide Ads