Google Digugat Terkait Dominasi Iklan Digital

Google Digugat Terkait Dominasi Iklan Digital

ADVERTISEMENT

Google Digugat Terkait Dominasi Iklan Digital

Rachmatunnisa - detikInet
Kamis, 26 Jan 2023 10:20 WIB
Illustration picture shows the Google logo, during a visit to the Google company in Ghlin on the occasion of the 15th anniversary of the Google data centre in Belgium, Friday 21 October 2022. BELGA PHOTO NICOLAS MAETERLINCK (Photo by NICOLAS MAETERLINCK / BELGA MAG / Belga via AFP) (Photo by NICOLAS MAETERLINCK/BELGA MAG/AFP via Getty Images)
Foto: Getty Images/NICOLAS MAETERLINCK
Jakarta -

Departemen Kehakiman dan delapan negara bagian di Amerika Serikat (AS) mengajukan gugatan antimonopoli terhadap Google pada Selasa (24/1). Gugatan ini terkait monopoli yang dilakukan Google terhadap seluruh ekosistem periklanan online yang merugikan para pengiklan, konsumen, bahkan pemerintah AS.

Dalam pengaduannya, pemerintah AS menuding bahwa Google berusaha "menetralkan atau menghilangkan" persaingan di pasar iklan online melalui akuisisi dan memaksa pengiklan untuk menggunakan produknya dengan mempersulit penggunaan produk yang ditawarkan pesaing.

"Monopoli mengancam pasar bebas dan adil yang mendasari ekonomi kita. Mereka menghambat inovasi, merugikan produsen dan pekerja, dan meningkatkan biaya bagi konsumen," kata Jaksa Agung Merrick Garland pada konferensi pers Selasa (24/1), dikutip dari AP.

Selama 15 tahun, lanjut Garland, Google berperilaku 'anti-persaingan' sehingga menghentikan munculnya teknologi pesaing dan memanipulasi mekanisme lelang iklan online untuk memaksa pengiklan dan penerbit menggunakan layanan dan produk mereka.

"Dengan melakukan itu, Google terlibat dalam 'perilaku eksklusif' yang telah sangat melemahkan, menghancurkan persaingan di industri teknologi iklan digital," sebutnya.

Gugatan tersebut menuding Google secara tidak sah memonopoli cara penayangan iklan online dengan mengecualikan pesaing. Pengelola iklan Google memungkinkan penerbit besar yang memiliki penjualan langsung yang signifikan mengelola iklan mereka. Sementara itu, pertukaran iklan adalah 'pasar waktu' yang nyata untuk membeli dan menjual iklan bergambar online.

Garland mengatakan, Google mengontrol teknologi yang digunakan oleh sebagian besar penerbit situs web utama untuk menawarkan ruang iklan untuk dijual, serta pertukaran iklan terbesar yang menyatukan penerbit dan pengiklan saat ruang iklan dijual. Hasilnya, penghasilan pembuat situs web lebih sedikit dan pengiklan harus membayar lebih banyak.

Gugatan yang diajukan di pengadilan federal di Alexandria, Virginia, ini menuntut agar Google melepaskan diri dari bisnis yang mengendalikan alat teknis yang mengelola pembelian, penjualan, dan pelelangan iklan tampilan digital. Raksasa internet ini diminta fokus pada mesin pencarian yang menjadi inti bisnisnya, serta layanan lain termasuk YouTube, Gmail, dan layanan cloud.

Menanggapi gugatan ini, Alphabet Inc. yang merupakan perusahaan induk Google, mengatakan bahwa apa yang disampaikan dalam gugatan adalah argumen cacat yang akan memperlambat inovasi, menaikkan biaya iklan, dan mempersulit pertumbuhan ribuan bisnis kecil dan penerbit.

Alphabet menyebut iklan digital saat ini menyumbang sekitar 80% dari pendapatan Google, dan pada umumnya mendukung upaya lain yang kurang menguntungkan.



Simak Video "Kilas Balik Kontribusi Google di Indonesia Sepanjang 2022"
[Gambas:Video 20detik]
(rns/rns)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT