Angka Pembajakan di Indonesia Tidak Fair?
- detikInet
Jakarta -
Data yang dirilis aliansi perusahaan bisnis software (BSA) mengenai angka tingkat pembajakan yang tak kunjung membaik alias tetap bertahan di 87% selama dua tahun berturut-turut, dianggap tidak adil dan bisa merendahkan martabat Indonesia di mata asing."Lha, mereka itu dapat data dari mana? Kalau mereka menghitung perbandingannya dari jumlah penjualan PC (komputer-red) beserta sistim operasi dan aplikasi software (yang berlisensi) saja, itu tidak fair," kata Asisten Deputi Pengembangan dan Pemanfaatan Teknologi Informasi Ristek Engkos Koswara pada detikINET di Gedung BPPT Ristek, Jakarta, Kamis (15/6/2006).Kenapa tidak fair? "Ya, belum tentu mereka yang membeli PC itu menggunakan software bajakan, bisa saja mereka menggunakan produk open source yang bebas lisensi. Ya contohnya mungkin seperti kami yang sekarang ini pakai open source," jawabnya.Vice President PT Microsoft Indonesia pernah membuat perumpamaan tentang pembajakan di Indonesia. "Dari angka pembajakan 87% itu, ibaratnya dari 100 PC yang terjual, berarti ada 87 PC menggunakan software bajakan dan hanya 13 PC yang menggunakan software legal," katanya beberapa waktu lalu.Dari data yang diberikan Sekjen Asosiasi Pengusaha Komputer Indonesia (Apkomindo) Sutiono Gunadi, ada sekitar 1,3 juta PC yang terjual pada kuartal pertama 2006. Angka penjualan itu mengalami peningkatan sekitar 20 persen per tahunnya. Berarti, bisa dibayangkan banyaknya jumlah PC baru dan PC lama yang beredar di Indonesia, dan tentunya cukup sulit untuk mendata penggunaan sistim operasi bajakan dan yang legal di tiap PC tersebut.Ketika detikINET hendak meminta konfirmasi dari pihak BSA, Country Manager BSA Indonesia Farouk Cader hingga Jumat siang (16/6/2006), masih sulit dihubungi. (rou)
(rou/)