Antonov Dibom Rusia, RI Lirik Si Paus Terbang untuk Angkut Satria-1

Antonov Dibom Rusia, RI Lirik Si Paus Terbang untuk Angkut Satria-1

Agus Tri Haryanto - detikInet
Selasa, 15 Mar 2022 22:10 WIB
Airbus Beluga XL
Airbus Beluga XL (Foto: Reuters)
Jakarta -

Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) membicarakan pesawat alternatif untuk mengangkut satelit Satria-1, usai pesawat kargo terbesar di dunia, Antonov-225, hancur karena dampak perang Ukraina-Rusia.

Semula Antonov-225 itu akan membawa satelit Satria-1 dari lokasi perakitan yang dilakukan Thales Alenia Space di Prancis ke lokasi peluncuran satelit milik pemerintah Indonesia itu di Cape Canaveral, Florida, Amerika Serikat.

"Pengadaan satelit ini berkaitan dengan independensi telekomunikasi, kedaulatan layanan telekomunikasi, geopolitik, geostrategis, geoekonomi. Saat ini kita melihat bagaimana pentingnya untuk menjaga dan memastikan independensi telekomunikasi kita," tutur Menkominfo Johnny G Plate di Jakarta, Selasa (15/3/2022).

Peristiwa perang menyadarkan betapa pentingnya untuk menjaga dan memastikan keamanan layanan telekomunikasi.

"Dunia sedang jungkir balik, perang yang terjadi di Ukraina mengingatkan bahwa dependensi infrastruktur sangat mengkhawatirkan," sambungnya.

Ia kemudian mencontohkan imbas dari perang kedua negara itu, alat transportasi untuk membawa satelit Satria-1 ikut terdampak dan sedang dicari solusinya.

"Saya ambil contoh, satelit Satria-1 kita yang saat ini sedang dibangun di Eropa akan diluncurkan di Cape Canaveral, itu perlu dibawa transportasi udara agar aman dan cepat," ungkapnya.

"Pesawat besar yang biasanya itu Antonov AN-225 dan AN-124. Saat ini populasi Antonov ada 15 pesawat, tujuh milik Rusia yang sekarang kena embargo udara dan ekonomi. Lalu, delapan Antonov milik Ukraina, satu Antonov yang besar itu informasinya rusak parah akibat perang. Ada tiga Antonov lainnya di Ukraina juga tidak bisa terbang karena ada di medan perang. Hanya ada empat yang tersisa di luar negara ini," jelasnya.

Kominfo dan PT Satelit Nusantara Tiga terus berkoordinasi dengan pihak Thales Alenia Space untuk menerbangkan satetlit Satria-1 ke landasan di Cape Canaveral.

"Saat ini sedang diusahakan untuk jenis alat transportasi udara. Ada Beluga dari Airbus, tapi tepat atau tidak masih belum tahu," ucapnya.

Beluga adalah pesawat kargo raksasa milik Airbus yang jadi saingan Antonov. Disebut Beluga karena bentuk pesawatnya mirip dengan paus tersebut.

Saat ini proses perakitan satelit Satria-1 oleh Thales Alenia Space mencapai hampir 70%. Satelit Satria-1 dirakit di tiga lokasi, yaitu Toulouse, Belfast dan Cannes. Satelit internet ini terdiri dari empat tingkat dengan lokasi produksi yang berbeda untuk setiap bagiannya.

Satelit Satria-1 akan diandalkan pemerintah dalam rangka mempercepat pembangunan infrastruktur digital Indonesia termasuk di daerah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T) dan Perbatasan. Satelit internet pemerintah yang memiliki kapasitas 150 Gbps akan mendukung penyebaran akses layanan internet di 150 ribu titik lokasi layanan publik.

[Gambas:Youtube]





Simak Video "Internet Starlink Milik Elon Musk Aktif, Warga Ukraina Merasa Terbantu"
[Gambas:Video 20detik]
(agt/fay)