Satelit Satria-1 Jalan Terus Meski Ada Invasi Rusia ke Ukraina

Satelit Satria-1 Jalan Terus Meski Ada Invasi Rusia ke Ukraina

Agus Tri Haryanto - detikInet
Selasa, 08 Mar 2022 15:16 WIB
Merebaknya virus Corona atau COVID-19 yang membuat perekonomian dunia jadi macet saat ini, diyakini tidak akan mempengaruhi proses peluncuran dan dioperasikannya Satelit Republik Indonesia (Satria) pada tahun 2023.
Foto: Kominfo
Jakarta -

Menteri Komunikasi dan Informafika (Menkominfo) Johnny G Plate memastikan perang antara Ukraina-Rusia tidak mempengaruhi perakitan satelit internet Satria-1.

Satelit Republik Indonesia (Satria) generasi pertama atau satelit Satria-1 saat ini dalam proses produksi oleh Thales Alenia Space, perusahaan antariksa yang berbasis di Prancis.

Kepastian itu saat Menkominfo melakukan kunjungan kerja ke luar negeri dan telah melangsungkan pertemuan dengan pihak Thales Alenia Space di Cannes, Prancis, pada 2 Maret 2022 kemarin.

"Perkembangan produksi satelit HTS (High Througput Satellite-red) Satria-1 berjalan sesuai jadwal, walaupun terkendala COVID-19 dan perang Ukraina," ujar Menkominfo kepada detikINET, Selasa (8/3/2022).

Disampaikan Menkominfo bahwa perakitan satelit Satria-1 sudah 70% dan peluncurannya akan sesuai dengan jadwal semula alias tidak ada pengunduran jadwal akibat COVID-19 maupun invasi Rusia ke Ukraina yang saat ini tengah bergejolak.

"Peluncuran satelit Satria-1 pada Juni 2023 dan diharapkan operasional komersial pada Q4 2023," ungkap Johnny.

Satelit Satria-1 ini direncanakan meluncur dari Cape Canaveral, Florida, Amerika Serikat. Untuk mencapai orbit 146 derajat Bujur Timur, wahana antariksa ini akan diangkut menggunakan roket Falcon 9 kepunyaan SpaceX, perusahaan antariksa milik Elon Musk.

Satelit Republik Indonesia alias Satria yang akan membantu menyebarkan akses internet di wilayah Indonesia.Satelit Republik Indonesia alias Satria yang akan membantu menyebarkan akses internet di wilayah Indonesia. Foto: Dok. Bakti Kominfo

Satelit internet pemerintah ini akan membantu menyelimuti area yang tidak terjangkau akses internet. Namun khusus untuk satelit ini, koneksi tersebut akan digunakan untuk kepentingan layanan publik.

Satelit Satria-1 memiliki tugas mengkoneksikan 150 ribu titik di seluruh Indonesia, terdiri dari 93.900 titik pendidikan, 47.900 titik pemerintah daerah, 3.900 titik pertahanan dan keamanan, dan 3.700 titik kesehatan.

Proyek strategis pemerintah tersebut dikerjakan oleh PT Satelit Nusantara Tiga (SNT), badan usaha swasta yang dibentuk Konsorsium PSN selaku pemenang tender, untuk mengoperasikan satelit pemerintah.

Untuk mendukung pengoperasian satelit Satria-1, sebanyak 11 stasiun Bumi yang tersebar di seluruh Indonesia, mulai dibangun. Stasiun tersebut akan menjadi penghubung komunikasi antara satelit Satria-1 dan teknisi yang ada di Bumi. Lokasi stasiun Bumi ada di Batam, Cikarang, Banjarmasin, Tarakan, Pontianak, Kupang, Ambon, Manado, Manokwari, Timika, dan Jayapura.

Adapun stasiun bumi yang di Cikarang berperan sebagai stasiun pusat pengendali satelit primer, network operation control, dan gateway Satria yang merupakan satu kesatuan dari proyek nasional ini.

Stasiun bumi ini akan berperan untuk mengendalikan dan mengawasi pergerakan satelit Satria-1, melakukan manajemen jaringan agar sesuai dengan standar kestabilan layanan, serta sarana komunikasi data antara satelit Satria-1 dengan Bumi.



Simak Video "Internet Starlink Milik Elon Musk Aktif, Warga Ukraina Merasa Terbantu"
[Gambas:Video 20detik]
(agt/fay)