TikTok ke Kominfo: Konten Penghina Palestina Sudah Dibatasi

TikTok ke Kominfo: Konten Penghina Palestina Sudah Dibatasi

Agus Tri Haryanto - detikInet
Kamis, 20 Mei 2021 21:10 WIB
LOS ANGELES, CA - AUGUST 01: A general view of the atmosphere during the TikTok US launch celebration at NeueHouse Hollywood on August 1, 2018 in Los Angeles, California. (Photo by Joe Scarnici/Getty Images)
Foto: Joe Scarnici/Getty Images
Jakarta -

Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) meminta TikTok untuk membatasi konten penggunanya yang mengandung penghinaan atau kebencian terkait konflik Palestina.

Dalam beberapa hari terakhir ini, TikTok diramaikan akun yang menghina Palestina. Sejauh ini, berdasarkan penulusaran, terdapat 40 konten ujaran kebencian terhadap Palestina yang sekarang masih konflik dengan Israel.

Maraknya akun TikTok yang menghina Palestina ini mendapat sorotan dari Komisi I DPR RI dan mendesak Kominfo untuk bertindak.

Disampaikan Juru Bicara Kementerian Kominfo Dedy Permadi bahwa saat ini pemerintah sudah berkoordinasi dengan TikTok.

"TikTok sudah melakukan restrict audio nya sehingga tidak bisa digunakan lagi. Audio konten-konten tersebut juga sudah dikategorikan high risk library sehingga dapat diantisipasi agar tidak muncul lagi," ungkap Dedy.

Sebelumnya, Wakil Ketua Komisi I DPR Abdul Kharis Almasyhari menyebut persoalan medsos ini menjadi ranah UU ITE. Menurutnya, jika dimanfaatkan dengan tidak benar, siapa pun bisa dijerat UU ITE.

"Terkait social media, tentunya UU ITE menjadi rujukan, sepanjang TikTok itu untuk keperluan positif, tidak untuk sebarkan berita bohong, tidak untuk diskreditkan orang atau pihak atau organisasi nggak masalah, tapi kalau sudah masuk ranah seperti yang kamu sampaikan itu, ya akan berhadapan dengan UU ITE," kata Kharis.

Kharis menyebut persoalan ini juga menjadi tanggung jawab Kemenkominfo. Menurutnya, Kemenkominfo harus melakukan tindakan preventif hingga peneguran ke TikTok jika ada konten buruk.

"Saya kira Kominfo dalam monitoring aktivitas itu yang sekiranya akan membuat situasi tidak kondusif tentunya harus ada upaya preventif, sebagaimana kadang konten-konten yang ini harus diperingatkan," ujarnya.

"Kalau memang membahayakan harus ditegur ke TikTok-nya, kan yang bisa men-take down TikTok atas masukan Kominfo misalnya, karena ada kondisi begitu," imbuh Kharis.



Simak Video "Usai Dibui 10 Bulan, Gus Nur Akhirnya Bebas"
[Gambas:Video 20detik]
(agt/fay)