Domain, IIX dan Bisnis ISP
Pengurus Baru APJII Punya Banyak PR
- detikInet
Jakarta -
Pengurus Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) yang terpilih melalui musyawarah nasional luar biasa (munaslub) beberapa waktu lalu, memiliki banyak pekerjaan rumah yang belum terselesaikan, mulai dari masalah pengelolaan domain, Indonesia Internet Exchange (IIX) dan perpajakan yang dihadapi bisnis penyedia jasa internet (internet service provider/ISP).Meski belum mengadakan rapat pengurus, Ketua Umum APJII periode 2006-2009, Sylvia Sumarlin, mengatakan pengurus APJII sekarang masih punya banyak pekerjaan rumah."Dari munaslub sudah jelas apa keinginan anggota APJII," kata Sylvia saat berbincang dengan detikinet. "Mandatnya dari anggota harus ada konsiliasi, untuk mengurus domain dan IIX. Itu PR yang belum selesai," paparnya.Domain dan IIX kata Sylvia, adalah kebutuhan publik. "Maka dari itu perlu ada konsiliasi. Masalah domain perlu ada care taker-nya. Saat ini pengelolaannya ada di tangan pemerintah. Pemerintah malah dibebani pekerjaan baru, yang harusnya itu ditangani komunitas. Ini perlu dicarikan solusi," tuturnya.PR tambahan untuk pengurus sekarang, kata Sylvia, adalah perlunya pembenahan dalam bisnis ISP saat ini. "Sampai sekarang ada sekitar 170 lisensi ISP. Tapi berapa banyak sih yang masih bertahan menjalankan bisnis?" ujarnya.Sylvia mengungkap, ISP-ISP banyak mengalami kendala bisnis seperti tidak adanya keseragaman dalam perpajakan. "Interpretasi pajak terhadap ISP dan usaha ISP masih beragam. Sekarang mesti meyakinkan pemerintah, bagaimana industri ISP sebenarnya."Menurutnya, di kalangan pemerintah sendiri sudah banyak keinginan untuk menggunakan internet, dan sistem-sistem terkomputerisasi yang mensyaratkan keterhubungan dengan internet. Tapi, pemerintah belum menyadari bahwa internet (industri ISP) perlu didukung dengan regulasi yang jelas."Kita tidak dikenal, tidak punya posisi di hadapan pemerintah. Tidak seperti industri lain misalnya tekstil, mobil, atau kerajinan tangan," kata Sylvia. "ISP cukup menderita, kalau beli bandwidth mahal, sementara kita sulit kalau mau menaikkan tarif."Belum lagi, menurut Sylvia, komponen-komponen pendukung bisnis ISP seperti listrik dan telepon tahun 2006 ini direncanakan mengalami kenaikan. "Mesin-mesin kita menyala 24 jam, sementara kita tidak bisa menaikkan harga," ungkapnya. (nks)
(wsh/)