Pakai WhatsApp dan Gmail, Korea Utara Mata-matai Dewan Keamanan PBB

Pakai WhatsApp dan Gmail, Korea Utara Mata-matai Dewan Keamanan PBB

Josina - detikInet
Kamis, 06 Agu 2020 05:14 WIB
A North Korean flag flies on a mast at the Permanent Mission of North Korea in Geneva October 2, 2014.   REUTERS/Denis Balibouse/File Photo
Pakai WhatsApp dan Gmail, Korea Utara Mata-matai Dewan Keamanan PBB. (Foto: REUTERS/Denis Balibouse/File Photo)
Jakarta -

Korea Utara tengah melakukan serangan siber, sekitar 11 pejabat dari enam anggota Dewan Keamanan PBB menjadi target serangan siber dengan tujuan untuk menggali informasi banyak dari para target.

Dalam sebuah laporan yang disampaikan kepada komite organisasi tentang Korea Utara, bahwa badan intelijen Korea Utara yang memimpin untuk melakukan peretasan.

Dilansir detikINET dari Daily Star, jebakan muncul setelah penyerang mengirim pesan melalui Gmail dan WhatsApp ke target, penyerang ini pun menyamar sebagai orang lain.

Para pejabat PBB diperkirakan akan merilis laporan terkait peretasan ini bulan depan. Sebuah laporan yang menunjukkan bagaimana Korea Utara menangani sanksi dari PBB.

Laporan ini juga mengatakan bahwa Korea Utara memperolah aset virtual dan online yakni cyptocurrency untuk menghasilkan uang selama dalam sanksi PBB. Namun tidak dijelaskan bagaimana Korea Utara menghabiskan uang secara tunai.

Selain itu dalam laporan juga mengatakan Korea Utara juga mengirimkan pekerjaan migran ke China dan Rusia.

Dalam rilis laporan yang akan datang tengah menyoroti hanya satu dari banyak kekhawatiran yang dimiliki analis tentang negara komunis.

Mereka khawatir presiden diktator Korea Utara Kim Jong-un menggunakan krisis kemanusiaan untuk meningkatkan persenjataan senjata biologinya. Korea Utara juga mungkin memiliki tujuan tersembunyi karena telah mengumumkan akan mengembangkan vaksin COVID-19.

Menurut Andrew Weber, mantan Asisten Menteri Pertahanan untuk program pertahanan nuklir, kimia dan biologi selama pemerintahan Obama, negara rahasia dapat menggunakan aspirasi vaksin yang sah ini sebagai cara untuk meningkatkan kemampuan bioteknologi mereka.

Pakar menyarankan negara dapat membeli sumber untuk vaksin mereka dan kemudian menggunakan sumber itu untuk membuat senjata biologis.

"Mereka dapat membeli peralatan dari sumber-sumber Barat atau China yang akan diperlukan untuk upaya vaksin mereka, dan kemudian tahun depan mereka dapat berbalik dan menggunakannya untuk memproduksi senjata biologis." tambahnya.



Simak Video "Kasus Corona Pertama di Korut, Kota Kaesong Lockdown"
[Gambas:Video 20detik]
(jsn/fay)