Laporan dari WSIS-Tunisia
Hasil WSIS Kurang Menggigit
- detikInet
Tunisia -
WSIS.Pengantar redaksi:Onno W. Purbo Ph.D, pakar teknologi informasi (TI) Indonesia, mendapat undangan menjadi salah satu pembicara pada ajang internasional World Summit of the Information Society (WSIS) di Tunisia, 16 hingga 18 November 2005. Onno, meskipun membuat harum nama Indonesia ke tingkat dunia, keberangkatannya ternyata tak disponsori oleh pemerintah Indonesia. Kiprah Onno di WSIS merupakan sebuah bentuk pengakuan dari International Development Research Center (IDRC), sebuah lembaga non-pemerintah asal Kanada, atas kiprah Onno selama ini. IDRC-lah yang kemudian menanggung seluruh biaya perjalanan Onno ke WSIS - Tunisia.Melalui detikinet, Onno menceritakan kisah perjalanannya di WSIS. Tulisan berikut ini adalah laporannya, langsung dari Tunisia.Komentar Beberapa Petinggi ASEAN Tentang WSIS 2005Onno W. PurboSalah satu keuntungan saya berada di WSIS 2005 adalah bertemu dengan banyak petinggi dari banyak negara.Kebetulan saya bertemu beberapa teman dekat saya yang sekarang adalah orang penting di negara masing-masing. Teman-teman ini adalah teman dari negara ASEAN.Pak Tengku Azzman beliau dari Malaysia. Dulu beliau adalah orang nomor satu di MIMOS Malaysia sebuah lembaga yang memimpin pergerakan Malaysia Multimedia Supercoridor yang sangat terkenal itu. Beberapa minggu yang lalu Pak Tengku pensiun dari posisi-nya, beliau sekarang menjadi orang bebas seperti saya. Iseng saya tanyakan pendapat beliau tentang WSIS 2005.Pak Tengku berpendapat bahwa WSIS 2005 baik sekali dalam hal mendorong negara-negara untuk lebih terbuka untuk menjadi open society. "Open Society Opens Opportunity", demikian kata Pak Tengku. Artinya, masyarakat yang terbuka akan membuka kesempatan usaha.Menurut Pak Tengku secara umum hasil WSIS 2005 adalah sepakat untuk tidak sepakat (agree to disagree). Kebaikan event WSIS 2005, menjadi tempat bagi kita semua untuk mengetahui, mengenal orang-orang dari banyak negara dan mengetahui posisi masing-masing. Dengan demikian kita jadi dapat mengira-ngira peta seluruh dunia dan akan memudahkan kita nantinya dalam melakukan manuver dalam melakukan penetrasi di tingkat dunia.Filipina: Sebuah Kompromi MaksimalBapak Emanuelle Llana atau lebih sering saya panggil nama kecilnya Boing, adalah Deputy for Ministry of Information di Filipina. Boing berpendapat bahwa hasil WSIS 2005 adalah sebuah kompromi maksimal. Salah satu masalah yang besar dari sisi internet governance adalah, Amerika Serikat tidak mau melepas kekuasaannya atas root server Internet. Root server adalah mesin tertinggi di Internet yang mengatur domain name untuk seluruh mesin di Internet.Adanya Internet Governance Forum mungkin OK, dan merupakan solusi bagi Filipina yang sedang berantem masalah top level domain di Filipina.Thailand: WSIS Kurang MengigitIbu Chadamas Thuvasethakul, pemimpin delegasi NECTEC Thailand dan juga merupakan wakil (deputy) dari NECTEC, Thailand. Chadamas berpendapat bahwa hasil dari WSIS 2005 sebetulnya tidak ada yang terlalu konkrit dan jelas yang dapat berjalan. Dalam bahasa sederhananya: WSIS 2005 ngambang!Dua isu besar dari WSIS 2005 adalah Internet Governence dan Financial Mechanisms. Menurut Chadamas, dari dua isu itu, keluaran yang ada Internet Governance Forum relatif mengambang dan Internet Solidarity Fund tidak menjadi kewajiban bagi negara maju. Jadi tidak ada hasil yang terlalu menggigit dari WSIS 2005.Tapi Thailand mungkin dapat mengambil manfaat dari dokumen dan deklarasi WSIS 2005. Dokumen deklarasi WSIS 2005 masih mungkin digunakan sebagai acuan dan arah untuk aktifitas atau proyek ICT yang akan diadakan di Thailand.Pada saat saya menulis saya masih mencari rekan saya DR. Halim Man dari Malaysia, beliau adalah pimpinan delegasi Malaysia.
(wsh/)