Rabu, 03 Apr 2019 20:33 WIB

Tesla Kena Denda Karena Limbah Berbahaya

Anggoro Suryo Jati - detikInet
Ilustrasi. Foto: Istimewa/YouTube/Duncan Sinfield Ilustrasi. Foto: Istimewa/YouTube/Duncan Sinfield
Jakarta - Tesla akhirnya setuju untuk membayar denda sebesar USD 31 ribu dari Environmental Protection Agency (EPA) karena melanggar aturan pembuangan limbah berbahaya.

Selain denda, dalam perjanjian tersebut juga disebutkan perusahaan milik Elon Musk itu harus membeli peralatan keamanan senilai USD 55 ribu dari Fremont Fire Department, demikia dikutip detikINET dari The Verge, Selasa (2/4/2019).

Pangkal permasalahan ini bermula pada 2017 lalu, ketika Tesla menimbun limbah berbahaya dari pabriknya di suatu tempat selama lebih dari 90 hari tanpa izin dari EPA. Ada beberapa jenis limbah berbahaya yang tak diurus dengan benar oleh Tesla saat itu.


Limbah tersebut adalah cat yang mudah terbakar, 55 galon limbah berbahaya yang tempat penyimpannya tak ditutup, juga melanggar standar emisi udara karena ada tiga lini transmisi di pabriknya yang bocor.

Pelanggaran ini ditemukan EPA dalam sebuah inspeksi mendadak yang dilakukan oleh California Department of Toxic Substances Control dan Bay Area Air Quality Management District di pabrik Tesla di Fremont, California, Amerika Serikat.

Dari hasil sidak itu, Tesla terbukti melanggarp sejumlah aturan dari Resource Conservation and Recovery Act dan beberapa peraturan lain. Tesla gagal memenuhi aturan standar emisi udara, gagal memenuhi persyaratan soal limbah berbahaya, dan gagal membuat tempat pemilahan limbah di pabriknya.

"16 bulan sejak kunjungan EPA, Tesla sudah memperbaiki masalah lingkungannya di bawah perintah VP Environmental, Health & Safecty Laurie Shelby," ujar juru bicara Tesla.

Ini bukan pertama kalinya Tesla terkena denda dari EPA. Mereka sebelumnya sudah membayar denda sebesar USD 275 ribu sebagai bagian dari perjanjian mereka dengan EPA pada 2010 lalu karena tak mempunyai sertifikasi yang tepat untuk Tesla Roadster.

Pada 2018 lalu Tesla juga terkena denda sebesar USD 139 ribu terkait polusi yang dihasilkan oleh pabriknya di Fremont. (asj/fyk)