Rabu, 20 Mar 2019 16:03 WIB

Kominfo Panggil Facebook soal Video Aksi Teror di New Zealand

Agus Tri Haryanto - detikInet
Foto: Agus Tri Haryanto/detikINET Foto: Agus Tri Haryanto/detikINET
Jakarta - Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) akan memanggil Facebook terkait dengan sempat tersiar dan beredarnya video penembakan brutal di masjid di New Zealand (Selandia Baru).

Disampaikan oleh Direktur Jenderal Aplikasi Informatika (Dirjen Aptika) Kementerian Kominfo Semuel Abrijani Pangerapan, pemanggilan Facebook rencananya akan dilakukan pekan ini.

"Kita akan panggil (Facebook Indonesia). Mereka saja kewalahan karena ada 1,5 juta video yang dihapus. Rencana minggu ini mereka sudah kasih responsnya," ujar Semuel di Jakarta, Rabu (20/3/2019).




Sejak insiden penembakan terjadi pada Jumat pekan lalu, Kominfo mengaku sudah mendapat lebih dari 1.500 pengajuan masyarakat atas beredarnya tayangan aksi keji Brenton Tarrant yang menembak membabi-buta hingga menewaskan 50 orang. Pengajuan tersebut tak hanya ditemukan di Facebook, melainkan juga Instagram hingga Google. Tapi peredaran video itu paling banyak ditemukan di Facebook.

Semuel menjelaskan, maraknya video penembakan ini karena banyaknya varian dari video tersebut yang sudah diedit sehingga menyulitkan mesin Ais mendeteksi peredarannya.




"Videonya ada yang diedit. Jadi, DNA videonya waktu di-compare itu kan banyak, nggak kebaca, perlu waktu lama," ucapnya.

Pria yang akrab disapa Semmy ini juga mengatakan pemanggilan Facebook untuk membahas bagaimana caranya agar platform media sosial besutan Mark Zuckerberg itu tidak kecolongan lagi. Sebelum ada kasus video penembakan yang pelakunya live streaming, sempat ada pula kasus bunuh diri yang dilakukan secara live streaming di Facebook dan menghebohkan Indonesia.

"Kita mengharapkan mereka punya moderator atau alat yang canggih, tidak berdasarkan laporan," tuturnya.




(agt/krs)