Senin, 04 Mar 2019 15:40 WIB

Mau Diekstradisi ke AS, Bos Huawei Gugat Pemerintah Kanada

Fino Yurio Kristo - detikInet
Rumah tempat bos Huawei Meng Wanzhou menjalani tahanan rumah. (Foto: Reuters) Rumah tempat bos Huawei Meng Wanzhou menjalani tahanan rumah. (Foto: Reuters)
Jakarta - Penahanan Chief Financial Officer Huawei, Meng Wanzhou, membuat relasi antara China, Kanada dan Amerika Serikat memburuk. Dalam perkembangan terbaru, Meng melayangkan gugatan pada pemerintah Kanada atas penahannyanya yang dilakukan karena permintaan AS.

Meng ditangkap pada Desember lalu di bandara Vancouver saat akan pindah pesawat. Dia dituding menipu institusi keuangan AS untuk memuluskan bisnis Huawei dengan Iran, negara yang diembargo Amerika.

Dalam gugatannya, Meng menuding pemerintah Kanada, lembaga perbatasan dan polisi melanggar hak-hak sipilnya. Gugatan dilayangkan pada hari yang sama di mana Kanada menyetujui proses ekstradisi Meng ke AS.




Didaftarkan di pengadilan British Columbia, Meng menyeret Royal Canadian Mounted Police (RCMP), Canadian Border Services Agency (CBSA) dan pemerintah federal Kanada. Otoritas menginterogasinya seolah-olah hanya terkait rutinitas pemeriksaan biasa.

CBSA menyita perangkat elektroniknya, meminta password dan melihat konten tanpa menyebut alasan penahanannya. baru setelah 3 jam, Meng diberitahu dia ditahan dan bisa menghubungi pengacara.

"Mereka menyita bukti dan informasi dari penggugat dalam cara yang mereka tahu sebagai pelanggaran serius terhadap hak-haknya," tulis tuduhan itu, yang dikutip detikINET dari Guardian.

Meng saat ini dalam status dibebaskan dengan jaminan sembari menunggu proses ekstradisi yang sudah disetujui. Dalam pernyataannya, Departemen Hukum Kanada menyebut keputusannya itu didasari oleh bukti-bukti yang dihadirkan dinilai memenuhi syarat untuk melakukan ekstradisi.

Keputusan Kanada mengundang kemarahan pemerintah China. "China sungguh tidak puas dan dengan tegas menentang dirilisnya kuasa untuk melanjutkan proses," tegas Kedutaan Besar China di Ottawa dalam pernyataannya. Lebih lanjut, otoritas China menyebutnya sebagai 'persekusi politik'.





Tonton juga video 'Mate X, Ponsel Layar Lipat Huawei Seharga Rp 36,6 Juta':

[Gambas:Video 20detik]

(fyk/krs)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed