Postel Kaji Konsorsium Riset Telekomunikasi
- detikInet
Jakarta -
Industri telekomunikasi di Indonesia belum merdeka, alias belum mandiri dan masih tergantung dari vendor asing. Untuk memajukan industri lokal, Dirjen Postel mempertimbangkan sebuah konsorsium riset dan pengembangan di bidang itu. Hal itu diungkapkan Direktur Jenderal Pos dan Telekomunikasi, Basuki Yusuf Iskandar, saat berbincang dengan detikinet, Senin (15/8/2005). Konsorsium itu nantinya akan digawangi oleh Kementrian Negara Riset dan Teknologi, Kamar Dagang Indonesia (Kadin), dan Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi."Wacana ini masih dalam proses. Kita bangun komitmen bersama dulu. Ini misi kita semua juga agar tidak tertinggal terlalu jauh dari industri asing," jelasnya. "Dari konsorsium itu, kita bisa tahu di bagian mana kita bisa berperan serta," ujar mantan Dirjen Pengairan di Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional itu.Basuki juga menuturkan akan menggandeng industri teknologi telekomunikasi asing. Hal itu menurutnya patut dicermati demi memajukan industri lokal. "Manufakturing kita belum kuat. Kalau bicara soal manufakturing, kita masih nol," ujarnya. "Tanpa research and development, kita belum bisa apa-apa," jelasnya.Demi menyerap industri manufaktur asing, Basuki mengizinkan perusahaan asing yang berminat untuk mengembangkan industri dengan membuat pabrik dan bermitra dengan perusahaan lokal.Dalam kesempatan yang berbeda Basuki juga mengakui telah bertemu dengan perwakilan dari LG Eelctronics. Namun ia menolak untuk merinci apakah sudah ada komitmen resmi dari produsen elektronik asal Korea Selatan itu. Armein Z.R. Langi, Ketua Pusat Sumber Daya Informasi Institut Teknologi Bandung, mendukung langkah Basuki. Konsorsium, ujar Armein, bisa memperbesar peluang bagi industri telekomunikasi nasional untuk berperan di dunia internasional. Menurut Armein konsorsium itu perlu didukung oleh lembaga penelitian seperti LIPI, serta perguruan tinggi seperti UGM dan ITB. "Kalau bisa dikordinasikan bersama, nantinya akan timbul kemerdekaan Indonesia di bidang itu," kata Armein.
(wsh/)