Selasa, 15 Mei 2018 18:02 WIB

Pascateror Bom, Ratusan Akun Diblokir Google, Facebook, Twitter

Agus Tri Haryanto - detikInet
Menkominfo Rudiantara usai rapat dengan Facebook, Google, Twitter. (Agus Tri Haryanto/detikINET) Menkominfo Rudiantara usai rapat dengan Facebook, Google, Twitter. (Agus Tri Haryanto/detikINET)
Jakarta - Facebook, Google, Twitter, dan Telegram telah menyatakan komitmennya untuk ikut membasmi konten radikalisme dan terorisme di internet. Sejauh ini, ada ratusan konten yang sudah diblokir sejak kasus bom yang terjadi akhir pekan lalu.

Data-data tersebut diungkapkan oleh Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara usai melakukan pertemuan tertutup dengan perwakilan keempat perusahaan berbasis internet itu.

Rudiantara lebih lanjut merinci bahwa Telegram telah memblokir lebih 280 akun yang kedapatan memuat konten radikalisme dan terorisme.

"Lebih dari 280 (akun) yang langsung di-take down, karena Telegram ini kooperatif. Dulu banyak kaitannya masalah radikalisme terorisme sampai ditutup. Sekarang sangat kooperatif, jadi dari 280 itu sudah di-take down," ujar Rudiantara di gedung Kominfo, Jakarta, Selasa (15/5/2018).



Kemudian, Facebook dan Instagram yang merupakan satu perusahaan, menemukan 450 akun yang berisikan radikalisme dan terorisme, dimana 300 akun di antaranya sudah diblokir.

Lalu, YouTube yang merupakan situs berbagi video di bawah naungan Google, mengatakan ada 250 akun yang menyebarkan konten negatif. Dari laporan tersebut, 40% sudah dilakukan pemebersihan oleh YouTube.

Dan, terakhir Twitter mengungkapkan bahwa situs mikroblogging ini telah memblokir konten radikalisme dan terorisme sampai 60%-70% dari laporan yang diterimanya. Sementara sisanya, masih dalam proses.

"Ini yang kami lakukan pemantauan terus-menerus. Kerjasama platform, baik Facebook, Google YouTube, kemudian Twitter, dan Telegram, khususnya empat itu sangat membantu dalam hal ini," ucapnya.



"Karena (terorisme) ini jadi musuh bersama dan ke depannya kerja sama ini dapat ditingkatkan," kata Menkominfo menambahkan.

Mengenai ada akun yang belum diblokir, Rudiantara menjelaskan bahwa hal itu hanya masalah waktu. Sebab, aparat kepolisian masih menelusuri akun tersebut mempunyai jaringan di mana saja.

"Sehingga tidak dilakukan pemblokiran, tapi itu masalah waktu," tandasnya.

[Gambas:Video 20detik]

(fyk/rou)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed