Basuki Suhardiman Didesak Ungkap Jati Diri Satria Kepencet
- detikInet
Jakarta -
Basuki Suhardiman, pakar TI ITB yang juga sekretaris Tim TI KPU, didesak untuk mengungkapkan jati diri Satria Kepencet. Jika tidak, Satria Kepencet bisa diidentikan dengan Basuki sendiri.Salah seorang yang mendesak agar Basuki mengungkapkan jati diri Satria Kepencet, adalah pengamat Telematika, Heru Sutadi. Desakan Heru itu diungkapkan dalam keterangan tertulisnya yang diterima detikcom, Selasa (3/5/2005). "Agar tidak dibuat sulit menebak-nebak siapa yang memakai nama Satria Kepencet, baiknya nama itu diidentikkan dengan Basuki Suhardiman saja," kata Heru. "Sebab beliaulah yang mem-forward email-email Satria Kepencet," tambah Heru."Tudingan ini bisa saja berubah jika Basuki Suhardiman dapat membuktikan di depan publik bahwa Satria Kepencet bukanlah dirinya, dengan menyebutkan jati diri asli Satria Kepencet," papar Heru. "Dan Satria Kepencet pun harus memberi pernyataan ke publik bahwa dirinya benar Satria Kepencet, serta menjelaskan segala macam tudingan yang ditulisnya."Kisah Satria Kepencet, untuk diketahui saja, dalam sepekan belakangan ini memang menerbitkan kehebohan tersendiri. Banyak kalangan yang tersengat setelah tulisan Satria Kepencet muncul di mailing list (milis) ITB. Tulisan itu Satria Kepencet itu sampai di milis ITB berkat tangan Basuki Suhardiman.Salah satu lembaga yang dibuat marah oleh tulisan Satria Kepencet adalah Harian Kompas. Tulisan itu berjudul Kompas: Obyektivitas Pers yang Hilang (http://www.mail-archive.com/itb@itb.ac.id/msg47301.html). Satria Kepencet menuding wartawan Kompas berinisial dik telah menerima gaji bulanan dari pejabat KPU. "Kompas juga terlibat dalam proyek percetakan surat suara melalui Gramedia. Pada percetakan surat suara Pilpres pertama, Gramedia bahkan dipanggil langsung oleh ketua panitia tender percetakan surat suara HA, tanpa sepengetahuan PT Temprina sebagai pimpinan konsorsiumnya. Hasilnya, Gramedia berdiri sendiri dan tidak berada lagi dalam konsorsium," demikian tulis Satria Kepencet.Tulisan Satria Kepencet itu yang diforward Basuki di Milis ITB itu nampaknya bakal berbuntut panjang. Kompas, kabarnya akan melayangkan somasi ke alamat Basuki. "Dunia teknologi informasi Indonesia gonjang-ganjing akibat pemanfaatannya yang digunakan untuk tudingan dan pembunuhan karakter pihak tertentu," kata Heru prihatin. Milis ITB, menurut Heru, merupakan tempat berkumpulnya intelektual kampus kebanggaan bangsa ini. Celakanya, milis yang terhormat itu justru disusupi tulisan-tulisan yang membuat beberapa pihak gerah. Menurut Heru, jika tulisan-tulisan yang menjadi konsumsi publik itu berasal dari sumber yang jelas dengan mencantumkan nama serta identitas lainnya, hal itu tentu tidak menjadi masalah. "Itu artinya dia bertanggung jawab tentang apa yang ditulis," kata Heru . Etika Ber-milisHeru mengingatkan akan pentingnya etika ber-milis. Milis sudah dianggap sebagai ruang publik baru, karena perannya bisa menggantikan coffee house, town hall, taman maupun sudut jalan. Di beberapa milis di banyak negara, pertemuan tatap muka kerap digelar sebelum seseorang ingin bergabung dengan milis tertentu. Sebab internet adalah sesuatu yang berbeda, anonymous, tanpa nama. "Sehingga bisa saja seseorang mengaku wanita, padahal sebenarnya dia pria," papar Heru.Heru juga mengimbau agar masyarakat berhati-hati untuk tidak mempercayai begitu saja email-email yang dikirim tanpa jati diri jelas.Basuki Suhardiman, pekan lalu kepada detikcom menyatakan tidak mengetahui jati diri Satria Kepencet. Basuki juga membantah keras bahwa Satria Kepencet itu adalah dirinya. "Saya kan tidak bisa menulis," kata Basuki.Nampaknya sosok Satria Kepencet masih buram. Jika saja Kompas benar-benar melangkah ke area hukum, siapa bakal kepencet?
(nks/)