Nilai Proyek Rp 1 Triliun
Dirut BRI Sangkal KKN Proyek TI
- detikInet
Jakarta -
Direktur Utama Bank Rakyat Indonesia Rudjito mengatakan, investasi teknologi informasi (TI) perseroan lebih efisien 4,5 kali dengan biaya yang sama sebesar US$ 100 juta (Rp 964 miliar). Sebelumnya dengan dana sebesar itu, BRI ditargetkan memiliki jaringan real time online, sebanyak 200 kantor cabang namun yang terjadi, lebih dari itu yaitu sebesar 978 cabang dan unit."Bagaimana bisa dibilang penyalahgunaan, karena dengan dana yang sebesar US$100 juta, target pembuatan real time online, bisa lebih besar sehingga BRI mendapatkan 4,5 kali efisiensi di TI," kata Rudjito, di acara konferensi pers di Gedung BRI, Jakarta, Kamis (12/5/2005).Pernyataan Rudjito dimaksudkan untuk menepis adanya dugaan KKN dan tindak pidana dalam proses pengadaan sistem teknologi informasi PT BRI Tbk yang senilai hampir Rp 1 triliun. Saat ini, Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dan Bank Indonesia tengah memeriksa proses pengadaan sistem TI tersebut.Rudjito menceritakan kronolgi pengadaan proyek TI tersebut, bermula dari keputusan pemerintah yang akan melakukan rekapitalisasi perbankan. Pemerintah melalui penasehatnya, Deutch Bank dan Kantor Akuntan Publik saat itu, Arthur Andersen menilai, BRI harus melakukan investasi di TI dalam keikutsertaannya untuk rekapitalisasi perbankan tersebut.Pada waktu itu (pertengahan tahun 2000), Arthur Andersen menilai BRI harus menginvestasikan dana sebesar US$ 100 juta untuk membangun real time online di 200 cabang. Untuk membangun insfrastruktur IT tersebut, BRI memakai IBM dengan sistem AS 400. IBM sendiri telah merekomendasikan tiga perusahaan yang bisa mengadakan sistem online tersebut, untuk dilakukan tender oleh BRI. Software yang disediakan nantinya akan bisa menampung 30 juta rekening."Dengan selesainya program online tersebut, BRI justru lebih bisa meningkatakan kinerjanya," kata Rudjito. Ini terlihat dari laba bersih yang diperloeh BRI dari tahun 2000 yang semula ditargetkan Rp 500 miliar, mencapai Rp 1,06 triliun. Selanjutnya tahun 2002, ditargetkan Rp 500 miliar, namun bisa dicapai Rp 1,6 triliun. Tahun 2003, BRI bisa mencapai target Rp 2,7 triliun, dari yang ditargetkan Rp 1,5 triliun.Saat ini BRI memiliki 450 kantor cabang, dan 4000 kantor unit. Dengan dana sebesar US$ 100 juta, BRI mampu melebihi target pemakaian online, dari 200 cabang menjadi 978 cabang dan unit, dimana semua kantor cabang sudah terhubung. Saat ini transaksi harian tertinggi mencapai 4 juta transaksi, dengan jumlah rekening nasabah sebanyak 24 juta.Rudjito juga mengatakan, hardware BRI bisa menampung 32 juta rekening, untuk mengantisipasi kondisi di atas normal, yaitu jika rekeningnya melebihi 24 juta. Rudjito juga menjelaskan bahwa BRI memiliki sistem back up data atau Disaster Recovery System (DRS) yang ditaruh di suatu tempat. "Tempatnya jauh, kalau naik pesawat bisa sampai satu jam," katanya.Dengan adanya online system tersebut dan pengadaan DRS, BRI bisa menyewakan kepada pihak lain. Hal ini mendatangkan pemasukan baru bagi BRI dalam bentuk see base income. Menanggapi Kemungkinan adanya pemerinkasaan dari KPK, Rudjito mengaku siap. "Baik Polisi, Kejaksaan atau KPK, kita siap memberi penjelasan, asal sesuai proporsi. Jadi kalau belum jelas lebih baik ditanyakan dulu," katanya.Dia mengaku kaget, data yang diperoleh media lain. Karena menurutnya sampai saat ini dana TI masih diaudit. Dari hasil audit tersebut, dijelaskan bahwa pengadaan TI BRI sudah sesuai prosedur, hanya opini saja yang berbeda, tandasnya.
(nks/)