Masih Banyak Belajar
Postel Susun Peta Kemandirian Telekomunikasi
- detikInet
Jakarta -
Dirjen Postel yang baru, Basuki Yusuf Iskandar, mengatakan akan menyusun 'peta jalan' agar industri telekomunikasi Indonesia bisa lebih mandiri. Manufaktur jadi perhatian khusus.Pekan lalu Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi (Postel), Departemen Komunikasi dan Informasi (Kominfo) resmi mendapatkan pimpinan baru. Dr. Basuki Yusuf Iskandar, sebelumnya menjabat Dirjen Pengairan dan Irigasi di Badan Perencanaan Pembangunan Nasional, kini menduduki posisi yang dulunya dipegang oleh Djamhari Sirat.Dalam bincang-bincang dengan detikinet, Senin (06/06/2005), Basuki Yusuf menuturkan rencananya untuk membuat 'peta jalan' alias roadmap industri telekomunikasi di Indonesia. Antara lain ia menekankan perlunya kemandirian di bidang telekomunikasi.Roadmap tersebut, ujarnya, akan berusaha mengantisipasi perkembangan teknologi telekomunikasi yang ada. "Saya sendiri baru mempelajari. Tapi seharusnya kita punya perencaanaan yang bagus. Jadi roadmap ini nanti sifatnya tidak reaktif," tuturnya. Dalam kesempatan yang berbeda, pengamat telematika Heru Sutadi mengkritisi pengangkatan pejabat Dirjen di Kominfo yang terkesan lambat. Padahal, ujar Heru, banyak masalah telekomunikasi dan informatika (telematika) yang harus segera dibenahi oleh pemerintah.Heru berharap Dirjen-Dirjen baru itu akan 'berlari' dalam menjalankan tugasnya. Artinya, ia mengharapkan proses adaptasi akan berlangsung cepat. Manufaktur dan Saling BerbagiSalah satu yang jadi perhatian Basuki adalah produksi perangkat telekomunikasi secara mandiri. Menurut Basuki, menumbuhkan industri manufaktur perangkat telekomunikasi akan menjadi bagian dari rencana jangka panjang Postel."Kita harus menempatkan telekomunikasi dalam konteks pembangunan nasional, termasuk meningkatkan kesempatan kerja. Kalau kita punya manufaktur yang kuat, bayangkan berapa tenaga kerja yang bisa diserap? Kita jangan sampai hanya jadi bangsa pembeli. Justru yang penting adalah kemampuan bangsa untuk memproduksi, bukan membeli," mantan Ketua Tim Inti Forum Perencanaan Iptek ini menjelaskan.Selain mengenai manufaktur perangkat, Basuki juga mengkritisi pembangunan sumber daya telekomunikasi yang tidak efisien. Ia mencontohkan pembangunan menara oleh para operator telekomunikasi yang saling berdekatan. "Menara-menara kenapa harus berdekatan? Kita seharusnya bisa sharing (saling berbagi-red)," ia menambahkan.Basuki mengaku sedang melakukan pendekatan pembuatan roadmap tersebut ke beberapa instansi lain. Ini termasuk Departemen Perindustrian dan Perdagangan, Kementerian Riset dan Teknologi serta lainnya. "Saya harapkan tahun depan selesai, mudah-mudahan bulan ini mulai," ujarnya.Kompetisi dan Kreativitas Hal lain yang diperhatikan Basuki adalah manajemen sumberdaya telekomunikasi. Ini termasuk alokasi frekuensi yang sifatnya terbatas. Rencananya pekan ini Kominfo akan menuntaskan audit terhadap pemberian alokasi frekuensi 3G, yaitu yang akan digunakan untuk telekomunikasi seluler generasi ketiga. Audit dilakukan karena pemberian frekuensi dianggap 'kurang baik'. Bagaimana Basuki akan mencegah persoalan frekuensi sejenis itu terulang? "Saya kira itu terkait manajemen pengelolaan sumber daya telekomunikasi kita, dalam hal ini frekuensi. Kita akan mantapkan platform-nya," tutur Basuki.Basuki belum merinci apakah alokasi frekuensi untuk teknologi baru akan diberikan pada operator yang sudah ada atau kepada pemain baru. "Ini kembali karena industri sangat di-drive oleh teknologi, umumnya memang semakin banyak pemain semakin bagus," tukasnya. Namun Basuki tidak sekadar mengatakan perlunya kompetisi dengan meningkatkan jumlah pemain. Menurut Basuki kompetisi justru didorong oleh inovasi dan kreativitas serta pelayanan yang bagus.
(wsh/)