Jumat, 22 Des 2017 15:02 WIB

UU ITE Direvisi, Kriminalisasi di Internet Malah Melonjak

Agus Tri Haryanto - detikInet
Foto: Mindra Purnomo Foto: Mindra Purnomo
Jakarta -
Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) masih dimanfaatkan oleh segelintir oknum untuk mengkriminalisasi orang lain karena dianggap melakukan pencemaran nama baik di internet.
Southeast Asia Freedom of Expression Network (SAFEnet) melihat tidak ada dampak berarti sejak direvisinya UU ITE. Diketahui, UU No.19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas UU No.11 Tahun 2008 tentang ITE disahkan pada November 2016.
"Sejak direvisi November 2016, kita berharap betul orang yang dikriminalisasi dengan UU ITE itu menurun, isi revisinya memang diarahkan ke sana sehingga orang yang tidak bersalah, jangan dikriminalisasi. Tetapi, kita melihat meski menurunkan tuntutannya (sanksi pidana), orang yang mengadu malah berkali-kali lipat," tutur Koordinator SAFEnet Damar Juniarto di Jakarta, Kamis (21/12/2017).
Tuntunan pidana yang semula maksimal enam tahun dan atau denda Rp 1 miliar diturunkan menjadi empat tahun dan atau denda Rp 750 juta, tidak lantas menurunkan juga animo kelompok yang memanfaatkan UU ITE untuk mengkriminalisasi orang.
"Tadinya kita lihat dalam kurun waktu yang sama, kita melihat ada 77 aduan. Setelah direvisi ada 385 akun atau netizen yang dilaporkan dengan UU ITE," sambung Damar.
Dari angka tersebut, terdapat 363 diantaranya berkaitan dengan pasal pencemaran nama baik, yaitu Pasal 27 ayat (3), kemudian sisanya ada 21 kasus menyangkut pornografi dan agama, dan satu tentang pengancaman.

Melihat data laporan itu, Damar menyangsikan UU ITE belum diubah dengan tepat dan benar.
"Kita melihat kalau memang tujuannya jadi lebih baik tetapi kenyataan jauh dari harapan setelah direvisi. Maka ada persoalan yang belum selesai di UU ITE karena kita melihat ada borok di UU ITE yang belum disentuh untuk direvisi kemarin, pada perumusan pasal," kata Damar.
"Penegak hukum juga kurang pengetahuan dalam penerapam UU ITE. Juga munculnya kelompok masyarakat yang memanfatkan UU ITE untuk balas dendam," ucapnya.


(agt/rou)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed