Jumat, 10 Nov 2017 15:40 WIB

Twitter: Tak Bisa 100% Tutup Pornografi, Perlu Kesadaran Pengguna

Achmad Rouzni Noor II - detikInet
Foto: Reuters/Kacper Pempel Foto: Reuters/Kacper Pempel
Jakarta - Twitter dilaporkan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) sebagai media sosial yang paling banyak bermuatan konten negatif, khususnya pornografi.

Pada 2016, Kominfo menerima 3.211 laporan aduan konten negatif di Twitter. Sementara sepanjang tahun 2017 ini, media sosial berlogo burung itu meningkat drastis jumlah laporannya mencapai 521.407.

Khusus untuk Agustus lalu saja, ada 521.350 laporan yang berkaitan dengan Twitter. Angka ini jadi yang terbanyak dibandingkan media sosial lainnya, bahkan dibandingkan Facebook dan Instagram yang tercatat ada 1.375 laporan di 2016 dan mencapai 513 laporan di 2017.

Kementerian Kominfo pun berencana memanggil Twitter dkk minggu depan. Tujuannya untuk membahas penapisan konten negatif, khususnya pornografi yang kembali merajalela belakangan ini.



"Fokusnya ke pornografi dulu karena banyak banget ditemukan. Itu tiap hari bisa sampai ribuan," ucap Dirjen Aplikasi Informatika Kementerian Kominfo Semuel Abrijani Pangerapan di kantor Kementerian Kominfo, Jakarta.

Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara juga mengaku akan bersikap tegas dengan Twitter dkk setelah sebelumnya terbukti efektif menekan WhatsApp untuk menutup akses GIF porno dalam waktu 2x24 jam.

Ia pun setuju, pemberantasan terhadap konten negatif dan pornografi tak boleh berhenti pada kasus WhatsApp saja. Langkah selanjutnya jelas untuk memaksa Twitter, Google, Facebook, Instagram, Telegram, dan lainnya untuk tunduk pada aturan.

"Kami akan lakukan pendekatan lebih tegas kepada platform lainnya," kata menteri yang akrab disapa Chief RA itu saat berbincang dengan detikINET.



Saat dikonfirmasi, Twitter pun ikut merespons positif inisiatif dari pemerintah untuk memerangi konten negatif dan pornografi di platform layanannya. Namun tentunya, Twitter tak bisa sendirian.

"Upaya dari Twitter ini tentunya tidak dapat menghilangkan konten terkait hingga 100% karena upaya dan kesadaran dari pengguna Twitter pun juga dibutuhkan untuk bersama sama menghilangkan konten seperti ini dikonsumsi oleh publik," tulis Twitter kepada detikINET.



"Seiring dengan perkembangan zaman dan teknologi, Twitter pun menyesuaikan peraturannya dengan perkembangan tersebut. Maka dari itu, Twitter berkomitmen untuk menjadikan platform ini lebih aman, sekaligus terus memperbaiki dan menggunakan teknologi yang dimiliki untuk mengurangi konten-konten negatif," lebih lanjut dikatakan Twitter.

Twitter juga mengaku telah mengeluarkan Transparency Report sebanyak dua kali setiap tahunnya terkait upaya mereka memerangi konten negatif. Laporan terakhir sudah diterbitkan September lalu. Di laporan itu, katanya, bisa dilihat berapa jumlah laporan yang Twitter terima dari pemerintah semua negara.

Saksikan video 20detik tentang Twitter di sini:

[Gambas:Video 20detik]

"Sebagai perusahaan global yang beroperasi di Indonesia, Twitter menghormati rambu-rambu yang ada di Indonesia. Kita bekerja sama dengan banyak organisasi nirlaba lokal untuk meningkatkan literasi digital di Indonesia.

"Ini dilakukan agar bisa pengguna bisa mengetahui peraturan Twitter, bisa beraktivitas dengan aman dan nyaman di platform, sekaligus melakukan sosialisasi cara melakukan pelaporan tweet-tweet negatif yang tidak sesuai dengan peraturan Twitter," pungkas Twitter di akhir penjelasannya. (rou/rou)
-
Load Komentar ...

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed