Rabu, 20 Sep 2017 13:26 WIB

Uber Tersandung Kasus Suap di 5 Negara, Termasuk Indonesia

Anggoro Suryo Jati - detikInet
Foto: GettyImages Foto: GettyImages
Jakarta - Uber tengah menghadapi sebuah penyelidikan federal terkait kemungkinan pelanggaran hukum yang mereka lakukan di sejumlah negara, tepatnya menyuap aparat.

Penyelidikan ini dilakukan oleh Departemen Hukum Amerika Serikat, yang mencari kemungkinan adanya kasus kriminal yang dilakukan oleh Uber. Perusahaan ride sharing itu pun mengaku sudah mulai melakukan penyelidikan secara internal terkait kasus tersebut.

Kasus yang dimaksud dalam hal ini adalah aktivitas mencurigakan di setidaknya lima negara di Asia, yaitu China, India, Indonesia, Malaysia dan Korea Selatan. Salah satu aktivitas mencurigakan itu adalah suap yang dilakukan staf Uber di Indonesia.

Seperti detikINET kutip dari Bloomberg, Rabu (20/9/2017), akhir 2016 lalu Uber bermasalah di Indonesia terkait lokasi kantor mereka. Lokasi tersebut dipermasalahkan karena berada di zona yang tak diperuntukkan untuk bisnis.

Sumber yang dikutip Bloomberg menyebut seorang karyawan Uber memberi sogokan ke polisi agar mereka tetap bisa beroperasi di lokasi tersebut. Uang sogokan tersebut kemudian muncul dalam laporan pengeluaran Uber, dan dideskripsikan sebagai sogokan ke pihak berwajib lokal.

Setelah itu, masih dari sumber yang sama, Uber memecat karyawannya itu. Ia adalah Alan Jiang, bos Uber Indonesia saat itu. Alan dipecat karena ia adalah orang yang menyetujui laporan pengeluaran tersebut. Alan sendiri belum memberi komentar soal hal ini.

Uber mengetahui masalah ini, namun mereka memutuskan untuk tak melaporkannya pemerintah AS. Setelah terendus oleh Departemen Hukum AS Uber akhirnya mengakui kejadian yang terjadi di Indonesia itu.

Kejadian serupa juga terjadi di negara lain, Malaysia contohnya. Uber saat ini tengah menginvestigasi sebuah donasi korporat yang terjadi pada Agustus 2016 sejumlah puluhan ribu dolar.

Donasi tersebut diberikan ke Malaysian Global Initiative and Creativity Center, sebuah hub entrepreneur yang dibekingi oleh pemerintah Malaysia. Dalam waktu yang sama, pengelola dana pensiun Malaysia bernama Kumpulan Wang persaraan juga mendadak jadi investor di Uber dengan dana sebesar USD 30 juta.

Tak sampai setahun kemudian, pemerintah Malaysia menyetujui undang-undang terkait ride sharing yang menguntungkan Uber dan layanan lain yang sejenis. Sejumlah transaksi Uber di China dan Korea Selatan pun tengah diselidiki, meski detailnya saat ini masih belum terungkap.

[Gambas:Video 20detik]

(asj/rou)

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed
  • Si Kardus Nintendo Labo Laris Manis

    Si Kardus Nintendo Labo Laris Manis

    Senin, 18 Jun 2018 15:35 WIB
    Berbahan dasar kardus, tak sedikit gamer yang mengejek kemunculan Nintendo Labo. Meski demikian, nyatanya aksesoris Nintendo Switch ini laris manis di pasaran.
  • Google Guyur Pesaing Alibaba Rp 7,7 Triliun

    Google Guyur Pesaing Alibaba Rp 7,7 Triliun

    Senin, 18 Jun 2018 14:26 WIB
    Google terus memperkuat cengkraman bisnisnya di China dengan cara mengguyur uang triliunan rupiah di salah satu raksasa e-commerce pesaing terkuat Alibaba.
  • Trafik Data Lebaran Telkomsel Melonjak 109%

    Trafik Data Lebaran Telkomsel Melonjak 109%

    Senin, 18 Jun 2018 13:35 WIB
    Telkomsel mencatat kenaikan trafik layanan data signifikan. Jika dibandingkan periode Lebaran tahun lalu, trafik data operator seluler itu melonjak pesat 109%.
  • Fortnite Ikut Nebeng Semarak Piala Dunia

    Fortnite Ikut Nebeng Semarak Piala Dunia

    Senin, 18 Jun 2018 12:53 WIB
    Setelah update Thanos dari euforia film Avengers Infinity War beberapa waktu lalu, kini game Fortnite juga ikut serta menyemarakkan Piala Dunia 2018.
  • Bill Gates Ternyata Ada Dua Orang

    Bill Gates Ternyata Ada Dua Orang

    Senin, 18 Jun 2018 10:59 WIB
    Hari ini adalah hari ayah di Amerika Serikat. Pendiri Microsoft Bill Gates pun tak ketinggalan mengucapkan selamat hari ayah untuk bapaknya yang ternyata..