Menurut praktisi internet yang juga sahabat Sony AK, kalau Sony Corp tidak juga minta maaf kepada Sony AK dan komunitas internet di Indonesia, ia tetap beranggapan di kemudian hari pihak Sony Corp bisa mengulangi kejadian ini.
"Itu sebabnya kami belum mencabut rencana somasi balik Rabu besok (17/3) apabila Sony Corp belum juga mengubah sikapnya dengan membatalkan somasi dan minta maaf," kata praktisi internetn M. Salahuddien, kepada detikINET, Senin (15/3/2010).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Alasan dari serangan balik yang siap dilancarkan Didin dkk dalam kasus ini adalah ancaman terhadap hak sipil individu dan hak lahir karena alasan merek paten dan hak atas kekayaan intelektual (HaKI).
Menurut Didin, di masa depan seiring dengan makin tumbuhnya generasi cyber maka semakin umum orang menggunakan namanya sebagai nama domain situs dan blog di
internet.
"Jangan sampai hak itu dihilangkan hanya karena masalah kepentingan kapital bisnis. Hak itu harus dilindungi dan dijamin karena di muka hukum sebenarnya baik hak pengusaha maupun pribadi sama-sama dijamin," ujarnya.
"Namun somasi Sony Corp ini seolah mengatakan bahwa kepentingan merek paten HaKI bisnis lebih tinggi dari hak sipil individu. Itu sebabnya, kami khawatir kalau Sony Corp menang dalam kasus ini akan jadi yurisprudensi yang akan mengalahkan Sony AK yang lain di masa mendatang," tandas Didin.
Selain Didin, ada beberapa orang yang juga mendesak agar Sony Corp digugat secara class action, seperti Heru Nugroho, Judith MS Lubis, dan Iwan Pilliang.
Mereka tidak terima, ketika Sony Arianto Kurniawan (sony-ak.com) disomasi oleh Sony Corp lantaran nama "Sony" yang melekat di situs pribadinya -- cuma karena alasan kalau-kalau situs dengan label "Sony" itu disalahgunakan dan bisa merusak merek dagangnya.
Sony AK yang menjadi korban pun dihadapkan oleh kuasa hukum Sony Corp dengan dua pilihan sulit: melepas nama "Sony" atau diseret ke meja hijau. Namun Sony AK memilih untuk bertahan. Ia tidak sendirian, banyak pihak yang mendukung dia, baik di dunia nyata maupun dunia maya.
Kasus sengketa nama domain ini pun bergulir cepat bak bola salju, ketika para sahabat Sony AK membuat sebuah grup penggalang dukungan di Facebook dengan nama: "Sony, Jangan Renggut Nama Temanku!".
Selain ancaman somasi balik terhadap Sony Corp, raksasa elektronik itu juga semakin tertekan dengan ancaman boikot atas produk-produknya. Seruan untuk memboikot produk Sony pun mulai ramai disuarakan di Twitter dan Facebook melalui berbagai grup di situs jejaring itu. (rou/ash)