Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Mantan Bos PlayStation Ejek Steam Machine: Seperti Kembali ke Era PS4

Mantan Bos PlayStation Ejek Steam Machine: Seperti Kembali ke Era PS4


Anggoro Suryo - detikInet

Valve Steam Machina
Steam Machine. Foto: Valve
Jakarta -

Meski ludes terjual di pasaran dan harga unitnya di eBay melonjak gila-gilaan hingga menyentuh angka USD 3.000 (sekitar Rp 49 juta), konsol terbaru besutan Valve, Steam Machine, rupanya gagal memukau banyak pihak. Salah satu kritikan paling tajam datang dari Shuhei Yoshida, mantan Presiden SIE Worldwide Studios di Sony sekaligus mantan kepala divisi game independen di PlayStation.

Secara terang-terangan, tokoh veteran di industri game ini mendeskripsikan konsol buatan Valve tersebut dengan kata "meh" (mengecewakan). Ia bahkan menyindir kualitasnya dengan bertanya apakah dirinya sedang kembali ke era PS4.

Yoshida adalah salah satu dari sekian banyak orang yang ikut membeli Steam Machine saat peluncuran resminya, terlepas dari banderol harganya yang sangat tinggi. Melalui media sosial, ia mengunggah foto perangkat tersebut yang disandingkan dengan TV miliknya, disertai ulasan jujur setelah memainkannya selama beberapa jam. Sayangnya, sebagian besar ulasannya jauh dari kata positif.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Performa dan Klaim 4K yang Direvisi

Keluhan pertama Yoshida sejalan dengan poin yang telah disoroti oleh banyak reviewer teknologi, yakni soal performa. Ia merasa terganggu dengan rekomendasi sistem Steam Machine yang menjadikan resolusi 1080p sebagai pengaturan grafis bawaan (default). Hal inilah yang memicu sindiran pedasnya soal perbandingan dengan PlayStation 4.

ADVERTISEMENT

Sebelumnya, Valve memang panen kritikan atas klaim awal mereka yang menyebut Steam Machine mampu menjalankan game di resolusi 4K pada 60 fps menggunakan bantuan teknologi FSR. Kenyataannya di lapangan, target tersebut hanya bisa dicapai jika pengaturan grafis game diturunkan ke tingkat paling rendah. Bahkan, beberapa game berat tetap gagal menyentuh angka 4K/60fps.

Fakta di lapangan ini memaksa Valve secara diam-diam merevisi kalimat promosi mereka minggu lalu menjadi lebih realistis: "Up to 4K gaming with FSR 4.1", seperti dikutip detikINET dari Techspot, Jumat (3/7/2026).

Selain urusan performa layar, Yoshida juga mengeluhkan waktu booting sistem yang lambat serta stick analog pada Steam Controller yang terasa longgar.

Meski melontarkan banyak kritik, Yoshida tetap memberikan beberapa pujian objektif. Ia memuji antarmuka sistem (UI) yang mudah digunakan, kemampuan menyalakan konsol langsung lewat controller, serta kover bodi (face plates) yang bisa diganti-ganti sesuai selera.

Pada akhirnya, Yoshida menyimpulkan bahwa ia akan tetap menyimpan konsol tersebut karena kemampuan Steam Machine untuk memainkan game Steam langsung dari ruang tamu adalah fitur yang cukup bernilai baginya.

Namun, ia menegaskan bahwa sangat sulit baginya untuk merekomendasikan Steam Machine kepada orang lain karena harganya yang kontroversial, yakni dimulai dari harga USD 1.049 (sekitar Rp 17,1 juta).

Ironisnya, meski mayoritas pengulas sepakat bahwa Steam Machine kurang bertenaga dan harganya terlampau mahal, konsol ini tetap berstatus habis terjual di mana-mana. Jika ada pembeli yang nekat ingin memilikinya, mereka harus rela berurusan dengan para calo di eBay yang mematok harga dua hingga tiga kali lipat lebih mahal.




(asj/asj)




Hide Ads