Valve akhirnya mengumumkan harga resmi untuk PC gaming ruang tamunya, Steam Machine. Sama seperti kebanyakan perangkat elektronik baru saat ini, banderol harganya sama sekali tidak murah.
Perangkat keras ringkas ini dijual mulai dari USD 1.049 (sekitar Rp 17,2 juta) untuk model penyimpanan 512GB, sementara varian 2TB dibanderol USD 300 lebih mahal. Jika pengguna ingin membelinya sepaket dengan perangkat Steam Controller, ada tambahan biaya sebesar USD 79 untuk masing-masing konfigurasi.
Valve menawarkan beberapa varian untuk menyesuaikan kebutuhan penyimpanan gamer. Berikut rincian dari empat konfigurasi yang tersedia:
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
- Model 512GB: USD 1.049 (sekitar Rp 17,2 juta)
- Model 512GB + Bundel Steam Controller: USD 1.128 (sekitar Rp 18,5 juta)
- Model 2TB: USD 1.349 (sekitar Rp 22,2 juta)
- Model 2TB + Bundel Steam Controller: USD 1.428 (sekitar Rp 23,5 juta)
Lebih Mahal dari Konsol Pesaing
Meskipun ditawarkan sebagai alternatif konsol yang praktis disambungkan ke TV untuk memainkan koleksi game Steam, harganya jauh melampaui perangkat konsol yang ada di pasaran. Padahal, performa Steam Machine disebut-sebut hanya setara dengan PlayStation 5.
Sebagai perbandingan, berikut adalah harga lini konsol saat ini (yang juga sudah mengalami kenaikan akibat krisis komponen):
- PlayStation 5: USD 599.99
- Xbox Series X: USD 649.99
- PlayStation 5 Pro: USD 899.99
Selisih harga yang tajam ini terjadi karena satu alasan fundamental: Valve menolak untuk memberikan subsidi pada perangkat kerasnya, sebuah strategi "jual rugi" yang sangat lumrah dilakukan oleh produsen konsol konvensional.
Menolak Sistem Tertutup demi Kebebasan Pemain
Bagi perusahaan bentukan Gabe Newell tersebut, mensubsidi perangkat keras berlawanan dengan filosofi mereka dalam membangun ekosistem yang sehat. Melalui pernyataan resminya kepada The Verge, Valve menjabarkan alasan kuat di balik keputusan tersebut:
"Model konsol tradisional adalah menjual perangkat keras dengan posisi rugi dan menutupi pendapatan tersebut lewat layanan berlangganan atau dengan menjual game yang terkunci (eksklusif) di perangkat keras tersebut. Kami pikir hal ini mungkin masuk akal untuk sebuah bisnis dalam jangka pendek, tetapi ekosistem terbuka jauh lebih baik bagi pelanggan dalam jangka panjang."
Valve menegaskan bahwa ekosistem PC yang terbuka telah menjadi pendorong utama inovasi teknologi selama puluhan tahun. Saat perusahaan menjual perangkat keras di bawah harga produksi demi keuntungan kompetitif, mereka sejatinya sedang membangun sistem tertutup yang merenggut kebebasan pengguna dalam memilih perangkat lunak.
"Anda tidak seharusnya merasa diwajibkan untuk membeli perangkat keras Valve. Anda berhak memutuskan perangkat mana yang paling sesuai dengan kebutuhan Anda soal harga, performa, form factor, dan hal lainnya. Itulah kekuatan platform PC yang terbuka, dan menyubsidi perangkat keras sangat bertentangan dengan hal tersebut," tegas Valve.
Jual 'Harga Modal' di Tengah Krisis Komponen
Faktanya, harga belasan juta tersebut murni merupakan harga modal. Lawrence Yang dari Valve mengonfirmasi bahwa harga jual Steam Machine pada dasarnya hanyalah akumulasi dari biaya komponen perangkat dan ongkos perakitannya.
Rekan sejawatnya, Pierre-Loup Griffais, menambahkan bahwa Valve bahkan memangkas margin keuntungan jauh lebih agresif dibandingkan saat mereka memproduksi Steam Deck agar harganya bisa sedekat mungkin dengan harga modal.
Krisis pasokan memori dan penyimpanan global nyatanya sangat memukul rencana perusahaan. Awalnya, Steam Machine ditargetkan meluncur pada awal 2026 bersamaan dengan Steam Controller dan headset VR Steam Frame. Penundaan pun tak terhindarkan.
Lebih parah lagi, krisis komponen ini berdampak langsung pada kuantitas produksi. Griffais mengakui bahwa jumlah unit Steam Machine yang siap diluncurkan saat ini hanya sekitar dua pertiga dari rencana awal mereka. Mengingat Valve sempat pesimis bisa memproduksi perangkat ini dalam jumlah yang signifikan, peluncuran Steam Machine ke pasaran saat ini bisa dibilang sebagai sebuah "keajaiban kecil", demikian dikutip detikINET dari The Verge, Selasa (23/6/2026).
(asj/asj)

