Kategori Berita
Daerah
Layanan
Top Up & Tagihan
Detik Network
detikInet
Demam AI Bikin Pasar PC Rakitan Makin Lesu

Demam AI Bikin Pasar PC Rakitan Makin Lesu


Anggoro Suryo - detikInet

Ilustrasi RAM PC
Ilustrasi RAM PC. Foto: Dok. Crucial
Jakarta -

Ambisi besar perusahaan teknologi untuk membangun pusat data kecerdasan buatan (AI) rupanya membawa efek domino yang merugikan bagi konsumen biasa. Tingginya permintaan komponen untuk server AI telah memicu lonjakan harga perangkat PC, terutama memori, yang pada akhirnya melumpuhkan pasar PC rakitan.

Laporan terbaru mengungkap bahwa kelangkaan memori dan mahalnya harga komponen membuat para perakit PC mengurungkan niat untuk memutakhirkan perangkat mereka. Pasalnya, percuma saja membeli motherboard baru jika mereka tidak mampu membeli prosesor atau RAM untuk dipasang di atasnya.

Penjualan Motherboard Terjun Bebas

Sumber dari industri mengatakan kepada DigiTimes bahwa sejak akhir tahun lalu, empat pabrikan motherboard raksasa asal Taiwan telah memangkas tajam proyeksi pengiriman mereka untuk tahun 2026 ini.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

ADVERTISEMENT
  • Asus: Sempat menikmati pertumbuhan pengiriman dari 14 juta ke 15 juta unit (2024-2025). Namun, tahun ini mereka baru mengirimkan sekitar 5 juta unit. Proyeksi total penjualan Asus di 2026 diperkirakan hanya menyentuh angka 10 juta unit, atau anjlok 30 persen.
  • Asrock: Memperkirakan penurunan yang tak kalah tajam, yakni dari 4,4 juta menjadi hanya 2,7 juta unit.
  • Gigabyte & MSI: Pengiriman motherboard dari kedua merek ini diprediksi kompak merosot sekitar 25 persen. Gigabyte memproyeksikan penjualan tahun ini hanya mencapai 8-8,5 juta unit (turun dari 11,5 juta), sementara MSI memperingatkan pengirimannya bisa turun dari 11 juta menjadi 8,4 juta unit.

Imbas Harga DDR5 dan Merembet ke Konsol

Pembangunan pusat data AI telah menyedot sebagian besar kapasitas produksi memori global. Imbasnya, harga RAM DDR5 meroket tajam dan menjadi sangat tidak terjangkau bagi konsumen perakit PC.

Dampak mahalnya DDR5 ini langsung menghantam angka penjualan CPU AMD generasi terbaru yang mewajibkan penggunaan RAM tersebut, sekaligus menyeret turun penjualan motherboard bersoket AM5. Tidak hanya RAM, kelangkaan ini juga memicu kenaikan harga kartu grafis, prosesor, hingga penyimpanan SSD.

Efek berantai ini rupanya tidak hanya menyerang PC rakitan, tetapi juga merembet ke produk elektronik lain:

- Konsol Game: Rencana peluncuran PC gaming Steam Machine dari Valve yang sedianya dijadwalkan pada awal 2026 terpaksa ditunda tanpa batas waktu karena sulitnya mencari pasokan RAM. Harga konsol PlayStation dan Xbox dilaporkan ikut naik, disusul oleh rencana kenaikan harga Nintendo Switch 2 pada September mendatang.
- Perangkat Apple: Apple terpaksa menaikkan harga untuk jajaran Mac dan berhenti menawarkan beberapa model tertentu akibat krisis memori ini. Belum lagi, perangkat Mac mini kini ludes diborong karena mendadak populer di kalangan developer AI.

Nvidia Batal Rilis GPU Baru

Kelangkaan memori ini juga memakan korban di lini kartu grafis. Kurangnya pasokan RAM GDDR disinyalir menjadi alasan utama mengapa Nvidia membatalkan rencana peluncuran kartu grafis seri RTX 50 Super. Batalnya rilis GPU ini membuat gamer makin kehilangan alasan untuk merakit atau upgrade PC mereka.

Kekacauan siklus upgrade PC tradisional ini pada akhirnya memaksa AMD untuk memutar otak. Perusahaan pembuat cip tersebut telah memperkirakan bahwa pendapatan mereka dari sektor gaming bisa merosot hingga 20 persen pada paruh kedua tahun 2026 ini, demikian dikutip detikINET dari TechSpot, Senin (11/5/2026).




(asj/asj)




Hide Ads