Sebuah ruangan kecil di Kantor Urusan Haji Indonesia Daerah Kerja (Daker) Makkah menjadi pusat pemantauan pergerakan ribuan jemaah haji Indonesia setiap hari. Ukurannya tak terlalu besar, sekitar 6x4 meter. Namun dari ruang inilah mobilitas jemaah haji dari Madinah menuju Makkah dipantau nonstop selama 24 jam.
Di dalam ruangan tersebut, lima layar monitor besar menampilkan pergerakan bus Angkutan Kota Antar Perhajian (AKAP) secara real time. Setiap titik di layar menunjukkan posisi bus yang membawa jemaah haji Indonesia menuju hotel masing-masing di Makkah.
Pada Minggu (10/5/2026), suasana ruang kendali tampak sibuk. Handy talky atau HT yang akrab disebut 'Bravo' nyaris tak lepas dari tangan petugas transportasi bernama Arudi. Di sisi lain ruangan, petugas lain terlihat fokus memantau GPS bus yang membawa jemaah Kloter 29 Embarkasi Solo (SOC 29). Arudi terus berkoordinasi dengan petugas di bus maupun petugas sektor tujuan untuk memastikan hotel dan konsumsi siap menyambut kedatangan jemaah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jadi patokannya itu posisi bus ada di kilometer berapa dengan jarak hotel. Misalnya posisi ada di kilometer sekian kurang lebih dua jam akan sampai di sektor, jadi mereka sudah siap-siap," kata Arudi.
Aktivitas pemantauan semakin padat dalam beberapa hari terakhir seiring meningkatnya pergerakan jemaah dari Madinah ke Makkah. Pada hari itu saja, tercatat 20 kloter diberangkatkan dari Madinah menuju Makkah menggunakan 132 bus dengan total 7.838 jemaah.
Foto: PPIH Media Center Haji 2026 |
Di ruang kendali tersebut, petugas memastikan armada tidak salah arah sekaligus memantau keamanan perjalanan jemaah. Kepala Seksi Transportasi PPIH Daker Makkah, Moh Afifuddin Zuhri, menjelaskan seluruh bus dipantau menggunakan sistem GPS yang terintegrasi dengan aplikasi khusus.
"Bagi kita, pelayanan lebih baik ketika kita sudah tahu posisi jemaahnya. Seperti kemarin ada kendala di jalan dari Jeddah karena ada pemeriksaan (otoritas keamanan Arab Saudi)," ujarnya.
Menurut Afifuddin, jadwal perjalanan bus tidak selalu berjalan sesuai estimasi karena kondisi lalu lintas dan kecepatan armada bisa berbeda-beda. "Jadi ini bisa di tracking di sini," katanya.
Ia menjelaskan fitur pelacakan menjadi instrumen penting agar petugas di sektor bisa menyesuaikan kesiapan hotel, konsumsi, hingga layanan kedatangan jemaah. Dalam sistem tersebut, tim di Madinah juga terus berkoordinasi dengan Daker Bandara dan operator bus untuk memastikan data perjalanan tetap akurat.
Afifuddin menyebut digitalisasi layanan transportasi menjadi salah satu kunci penting dalam mendukung kelancaran operasional haji tahun ini. "Digitalisasi layanan transportasi ini menjadi kunci agar pelayanan di sisi transportasi bisa maksimal dan memastikan kondisi jemaah aman selama perjalanan," ujarnya.
(rns/fay)
