Valve keluar sebagai pemenang dalam sengketa hukum melawan seorang penemu produktif, Leigh Rothschild, serta entitas afiliasinya. Keberhasilan mereka tak lepas dari keberpihakan Pengadilan Distrik AS untuk Distrik Barat Washington.
Jadi pada Juli 2023, Valve menggugat Leigh Rothschild dan beberapa afiliasinya. Tuduhan yang mereka layangkan ialah Rothschild dinilai melanggar Undang-Undang Pencegahan Troll Paten, karena membuat ancaman litigasi paten atas teknologi software yang dapat digunakan Valve secara legal.
Maksud dari ancaman litigasi paten, yakni seperti mengirim peringatan hukum kepada perusahaan lain, yang menuduh produk, proses, atau teknologi yang digunakan telah melanggar paten sah mereka. Tujuan melakukan hal itu supaya Valve berhenti menggunakan perangkat lunak tersebut, dan Rothschild mengantongi royalti atau terjadinya negosiasi lisensi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rothschild memang dikenal memegang ratusan paten yang mencakup berbagai macam penemuan, termasuk kode QR. Dirinya dan Valve pun sudah memiliki sejarah litigasi yang panjang.
Kasus pertama diajukan oleh sebuah perusahaan pemegang paten dari Rothschild, Display Technologies LLC, pada 2022. Paten yang menurut mereka telah dilanggar oleh Valve ialah US8856221B2 milik Rothschild Broadcast Distribution Systems (RBDS).
Singkatnya, paten US8856221B2 mencakup sistem dan metode untuk menyimpan konten siaran dalam lingkungan komputasi berbasis cloud. Namun gugatan ini dinilai Hakim Jamal Whitehead telah melanggar perjanjian lisensi 2016.
Valve pun menggugat balik pada 2023 yang ditujukan kepada Rothschild, RBDS, Display Technologies LLC, Patent Asset Management LLC, Meyler Legal LLC, dan Samuel Meyler berdasarkan Undang-Undang Perlindungan Paten Troll (PTPA) karena melanggar kontrak asli tahun 2016.
PTPA menargetkan individu atau perusahaan yang hanya mengumpulkan dan menegakkan paten tanpa benar-benar menggunakannya untuk menciptakan apa pun, melainkan menghasilkan uang melalui litigasi (persis seperti yang dilakukan Rothschild dan entitasnya).
Menurut Rothschil, Valve sebagai perusahaan swasta tidak dapat menggugat berdasarkan undang-undang tersebut dan itu hanyalah sengketa kontrak pribadi. Namun hakim dalam kasus ini justru memutuskan kasus Valve sah, karena praktik patent trolling merupakan masalah "kepentingan publik yang vital".
Minggu ini, juri mengungkapkan putusan akhir bahwa Rothschild harus membayar Valve sebesar USD 152 ribu. Jumlah uang ini memang kecil dalam konteks yang lebih luas, tetapi itu menetapkan suatu keputusan penting. Keputusan ini dibuat berdasarkan PTPA, hal ini jelas menunjukkan klaim Rothschild dilakukan dengan itikad buruk.
Sebagai tambahan informasi, troll paten adalah istilah yang menggambarkan suatu individu atau perusahaan membeli paten -biasanya dari perusahaan bangkrut atau penemu- bukan untuk memproduksi barang, melainkan digunakan sebagai senjata menuntut perusahaan lain atas pelanggaran paten demi keuntungan finansial.
Lalu Leigh Rothschild merupakan pria yang telah menghabiskan puluhan tahun mengajukan lebih dari 1.200 gugatan kepada semua orang mulai dari Apple hingga perusahaan kecil.
(hps/fay)