Seorang developer game indie, Eero Laine, menyebut karyanya sebagai aib karena membuatnya menggunakan Artificial Intelligence (AI). Dirinya berencana menghapus game-nya ini dari Steam pada akhir Januari 2026.
Dorongan lain yang membuat Laine ini ingin melenyapkan game miliknya ialah dari sang pacar. Setelah kekasihnya tersebut memberikan pemahaman tentang realitas AI, dirinya pun mengambil langkah tersebut.
Laine mengungkapkan membuat game berjudul Hardest ini selama musim panas tahun lalu. Ia mengaku memanfaatkan AI karena selama belajar di universitasnya ada begitu banyak pencucian otak pada mahasiswa, terkait memberdayakan kecanggihan teknologi tersebut dan semua alat bisa dipakai gratis.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tetapi saya menyadari bahwa AI sebenarnya tidak gratis, dan memiliki dampak besar pada ekonomi dan lingkungan. Beberapa perusahaan AI dapat menggunakan game ini hanya sebagai alasan untuk mendapatkan lebih banyak investasi untuk perusahaan AI mereka, yang tidak menguntungkan siapa pun, tetapi malah menyedot sumber daya dari ekonomi dari orang-orang yang bekerja keras," jelas Laine, dikutip dari Steam, Selasa (13/1/2026).
Laine menyatakan kalau selama pembuatannya, proses pengkodean dibangunnya secara otentik, tapi memang dirinya mengaku di beberapa bagian game ini mengandalkan AI generatif. Kendati begitu, dirinya terbuka terhadap gagasan untuk membangun kembali game ini dengan aset asli di masa mendatang.
"Jadi di masa depan saya dapat membuat game baru dengan aset nyata jika saya mau, tetapi game yang ada dalam bentuknya saat ini adalah aib bagi semua pembuat game dan pemain. Secara etis, satu-satunya alasan logis adalah menghapus game ini dari Steam. Gadis yang telah saya kencani selama sebulan membuat saya menyadari hal ini," pungkasnya.
Hardest merupakan permainan kartu Batu-Gunting-Kertas dengan elemen roguelike. Ketika memainkannya, gamer merasa terdapat beberapa detail aneh, terlebih khusus pada gambar kartu dan karakter di dalamnya yang dinilai dihasilkan oleh AI.
Sejumlah pemain memberikan ulasan di Steam, dengan menyatakan bahwa game ini menggunakan AI. Namun ada juga beberapa orang yang cukup menikmati pengalaman singkat mereka, terutama memuji desain permainannya.
(hps/rns)