Epic Games Didenda Rp 7,9 Triliun Akibat Fortnite Langgar Privasi Anak

Epic Games Didenda Rp 7,9 Triliun Akibat Fortnite Langgar Privasi Anak

ADVERTISEMENT

Epic Games Didenda Rp 7,9 Triliun Akibat Fortnite Langgar Privasi Anak

Panji Saputro - detikInet
Jumat, 23 Des 2022 12:15 WIB
Epic Games
Nasib kurang baik menyambangi Epic Games dan game besutannya, berjudul Fortnite. Mereka harus membayar denda sebesar USD 512 juta atau sekitar Rp 8,1 triliun. (Foto: istimewa)
Jakarta -

Nasib apes menyambangi Epic Games dan game battle royale besutannya, berjudul Fortnite. Mereka harus membayar denda sebesar USD 512 juta atau sekitar Rp 7,9 triliun.

Hal tersebut buntut pelanggaran yang dilakukan Fortnite. Setidaknya ada dua hal yang dilanggar mereka, di antaranya soal privasi anak-anak dan kedua melakukan penipuan terhadap beberapa pemain, agar membeli barang di dalam game.

Ini terjadi setelah Federal Trade Commission (FDC) melakukan penyidikan. Menurut mereka, kejadian itu merupakan denda terbesar dalam sejarah persidangan terkait game, seperti dilansir detikINET dari Kotaku, Jumat (23/12/2022).

Lantas bagaimana praktiknya, sehingga Epic Games dibilang bersalah? FTC sendiri menuduh raksasa video game tersebut menghasilkan banyak uang dari anak-anak, tanpa mereka mendapatkan konfirmasi terlebih dahulu sebelum membeli. Lalu termasuk mengumpulkan informasi pribadi, dari pemain yang berusia di bawah 13 tahun.

Untuk pelanggaran terhadap aturan perlindungan privasi online anak-anak, Epic Games terpaksa membayar sejumlah uang USD 275 juta atau sekitar Rp 4,2 triliun. Mereka juga harus mengubah peraturan default Fortnite.

Sedangkan pelanggaran mengenai penipuan terhadap pembelian item, mereka bakal membayar USD 245 juta atau sekitar Rp 3,8 triliun. Jadi secara khusus, pemain dimudahkan untuk membeli skin secara tidak disengaja saat melakukan preview tanpa diminta persetujuan.

Parahnya lagi, ketika tidak sengaja melakukan pembelian, pemain dibuat kesulitan ketika meminta pengembalian dana. FTC menyampaikan, saat tagihan dibatalkan, Epic Games terkadang melarang akun terkait dan terjebak dengan konten yang telah mereka bayar sebelumnya.

Epic Games pun telah memberikan tanggapan soal masalah yang terjadi. Mereka menyatakan, bahwa tidak ada pengembang yang ingin gamenya berakhir dalam kasus seperti ini.

"Kami menerima perjanjian ini karena kami ingin Epic menjadi yang terdepan dalam perlindungan konsumen dan memberikan pengalaman terbaik bagi para pemain kami," ujar Epic Games.



Simak Video "Kominfo Blokir Steam, PayPal, Counter-Strike hingga Dota"
[Gambas:Video 20detik]
(hps/fyk)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT