Selasa, 07 Mei 2019 22:04 WIB

Bermain Pokemon Semasa Kecil Bisa Tinggalkan 'Jejak' di Otak

Anggoro Suryo Jati - detikInet
Foto: Kakek 70 Tahun Main Pokemon Go Pakai 9 Smartphone Foto: Kakek 70 Tahun Main Pokemon Go Pakai 9 Smartphone
Jakarta -
Hasil pemindaian terhadap otak orang dewasa yang semasa kecil suka bermain Pokemon ternyata menunjukkan adanya semacam "jejak" di otaknya.

"Jejak" di sini maksudnya adalah ada bagian otak yang lebih mudah merespons terhadap karakter kartun ketimbang gambar lainnya. Hasil lain dari pemindaian ini adalah informasi baru mengenai bagaimana otak manusia mengorganisasi informasi visual.




Hasil penelitian itu dipublikasikan di jurnal Nature Human Behavior. Ada 11 orang dewasa yang semasa kecil adalah pemain Pokemon, tepatnya bermain Pokemon sejak usia lima sampai delapan tahun. Lalu ada 11 orang dewasa lain yang tak bermain Pokemon. Demikian dikutip detikINET dari The Verge, Selasa (7/5/2019).

Pengujian pertama terhadap semua peserta adalah memastikan mana yang benar-benar pemain Pokemon dan mana yang bukan. Caranya adalah dengan diuji untuk membedakan antara Clefairy dan Chansey (dua-duanya merupakan Pokemon yang bewarna pink, dan sekilas memang terlihat mirip).

Setelah itu barulah otak mereka dipindai sembari menunjukkan gambar dari 150 Pokemon original, bersama dengan gambar lain seperti hewan, wajah, mobil, kata, koridor, dan kartun lainnya.




Hasilnya adalah pemain Pokemon pada bagian tertentu otaknya merespon lebih banyak terhadap gambar Pokemon dibanding gambar lainnya. Sementara untuk non pemain Pokemon, bagian otaknya yang bernama occipitotemporal sulcus lebih merespon terhadap gambar hewan dan tak menunjukkan preferensi apa pun terhadap pokemon.

Hasil pengujian ini mendukung sebuah teori yang menyebut terpaan hal tertentu pada masa kecil sangat penting untuk mengembangkan bagian tertentu dari otak manusia. Di mana otak manusia bisa berubah dalam merespon materi yang didapat semasa kecil.




(asj/krs)