Selasa, 20 Des 2016 14:58 WIB

Gamification, Seni 'Menghipnotis' Orang Lewat Game

Yudhianto - detikInet
Foto: Thinkstock Foto: Thinkstock
Jakarta - Berawal dari ketertarikan orang terhadap game, muncul sebuah metode 'hipnotis' bernama gamification. Apa itu?

Jadi, gamification adalah sebuah metode di mana sebuah game digunakan sebagai kedoknya. Tujuan metode ini adalah agar pemainnya tanpa sadar bisa digiring ke sebuah tujuan, tapi tentu dalam konteks yang positif.

Dalam implementasinya, gamification sudah mulai diterapkan di sektor edukasi dan juga marketing. Institusi pembelajaran memanfaatkan game dengan tujuan agar siswa bisa lebih mudah mengerti materai yang diajarkan, sehingga proses belajar lebih efisien.

"Kami membuat game, yang sebenarnya adalah untuk membuat Anda mengikuti apa yang kami inginkan," kata Scot Osterweil, Creative Director of Education Arcade & Research Director Masachusets Institute of Technology (MIT) Corporate Media Studies.

Gamification, Seni 'Menghipnotis' Orang Lewat GameFoto: detikINET/Yudhianto


Penggunaan metode gamification oleh Osterweil terbilang menarik. Ia langsung menyodorkan sebuah game untuk diselesaikan oleh siswanya. Awalnya, siswa akan mengalami apa yang disebut chaotic atau suatu di mana siswa tak tahu harus melakukan apa.

Namun chaotic hanya akan terjadi sebentar. Selanjutnya, siswa biasanya akan langsung berimprovisasi. Bila menemukan sebuah petunjuk, proses akan dilanjutkan ke analisa untuk menemukan masalah dan menyelesaikannya.

"Ketika Anda tahu tak tahu apa yang harus dilakukan, Anda akan berimprovisasi. Ketika menemukan caranya, Anda akan menganalisanya. Di proses ini orang sedang berusaha belajar. Tidak masalah cepat atau lambat, yang penting Anda bisa tahu cara menyelesaikannya," jelas Osterweil.

Nah, itu untuk edukasi. Lain lagi halnya dengan pemanfaatan gamification untuk bidang marketing. Menurut Osterweil, orang akan digiring lewat sebuah game menarik. Orang mungkin akan tertarik memainkannya, sehingga tanpa sadar telah terjerat jebakan marketing.

"Beberapa orang mungkin bisa dikerjai, tapi banyak juga yang sadar duluan kalau mereka sedang dikerjai," simpulnya. (yud/rns)
Load Komentar ...

Redaksi: redaksi[at]detikinet.com
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: sales[at]detik.com
News Feed